Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
05 March 2026 11:49
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai merembet ke rantai pasok pertanian global. Dampak paling cepat terlihat pada pasar pupuk.
Jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi titik krusial karena sebagian besar perdagangan energi dan nutrisi tanaman dunia melewati kawasan tersebut. Gangguan distribusi langsung menaikkan biaya input pertanian menjelang musim tanam di belahan bumi utara.
Menurut laporan Farmdoc yang mengutip analis StoneX, harga pupuk nitrogen mengalami lonjakan tajam dalam beberapa hari terakhir. Urea di pelabuhan New Orleans diperdagangkan pada kisaran US$520-US$550 per ton, naik dari rata-rata US$475 per ton pada pekan sebelumnya.
Kenaikan sekitar US$70 per ton terjadi setelah konflik militer di kawasan Teluk memicu kekhawatiran distribusi pupuk dari Timur Tengah. Sekitar seperempat perdagangan nitrogen global melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan logistik langsung memicu penyesuaian harga.
Kenaikan biaya pupuk biasanya cepat menjalar ke pasar komoditas pertanian. Produsen menghadapi ongkos produksi yang lebih mahal pada awal musim tanam, sementara pedagang mulai menghitung potensi penurunan pasokan. Pergerakan harga dalam sepekan terakhir menunjukkan respons tersebut mulai terlihat di beberapa komoditas pangan dan bahan baku tekstil.
Data Trading Economics menunjukkan lima komoditas pertanian dengan kenaikan mingguan tertinggi saat ini dipimpin oleh susu. Harga milk berada di US$16,56 per hundredweight pada 5 Maret 2026 dengan kenaikan 10,92% secara mingguan. Secara bulanan harga naik 7,67%, meskipun masih berada sekitar 9,46% lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan berikutnya datang dari pasar jus jeruk. Harga orange juice mencapai 194 sen per pon pada 4 Maret 2026 dengan lonjakan 8,71% dalam sepekan. Dalam satu bulan harga melonjak lebih dari 21%, meskipun secara tahunan masih jauh di bawah posisi tahun lalu setelah pasar mengalami koreksi panjang.
Pasar beras ikut bergerak naik dalam horizon mingguan. Harga kontrak berada di US$10,39 per cwt dengan kenaikan 4,47% selama sepekan. Pergerakan ini terjadi setelah harga beras terkoreksi dalam beberapa bulan terakhir sehingga ruang rebound terbuka di tengah kekhawatiran biaya produksi global.
Komoditas tekstil alami wol mencatat kenaikan mingguan 4,37% dengan harga berada di 1.767 dolar Australia per 100 kilogram. Permintaan industri tekstil dan keterbatasan pasokan dari Australia turut menjaga tren kenaikan. Dalam setahun terakhir harga wol bahkan sudah naik lebih dari 44%.
Di posisi berikutnya terdapat minyak sawit. Harga kontrak futures Malaysia meloncat 3,58% dalam sepekan.
Dukungan datang dari harga minyak mentah yang lebih tinggi akibat konflik Timur Tengah serta depresiasi ringgit yang meningkatkan daya saing ekspor. Namun pasar masih menimbang penurunan ekspor Malaysia pada Februari yang turun lebih dari 20% dibanding Januari.
Pergerakan lima komoditas tersebut menunjukkan bagaimana ketegangan geopolitik dapat menjalar cepat dari pasar energi ke sektor pangan. Jalur distribusi pupuk, energi, dan logistik berada dalam satu ekosistem yang sama. Ketika biaya input meningkat pada awal musim tanam global, volatilitas harga komoditas pertanian biasanya mengikuti dalam beberapa minggu berikutnya.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google












































