Financial Minimalism Saat Ekonomi Sulit: Ini Maksud dan Caranya

8 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia sedang dihadapkan pada tekanan ekonomi, imbas dari konflik geopolitik yang memanas di Timur Tengah, antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Konflik itu mengganggu aktivitas perdagangan dunia, khususnya komoditas energi, hingga membuat harga minyak mentah dunia melejit spai menekan laju pertumbuhan ekonomi dunia.

Bank Indonesia (BI) bahkan memperkirakan, prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 makin melambat menjadi 3,0% dari prakiraan sebelumnya sebesar 3,1%. Inflasi global juga diprakirakan lebih tinggi menjadi 4,2% dari prakiraan sebelumnya sebesar 4,1%, sehingga makin mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global.

Di tengah situasi seperti itu, muncul fenomena tentang upaya penerapan hemat finansial atau financial minimalism di Indonesia. Ini terlihat dari tulisan Teresia Angelia Kusumahadi, dosen di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, bertajuk Krisis melanda, tak ada salahnya ngirit tapi tidak pelit ala 'financial minimalism' yang terbit di The Conversation, Jumat (24/4/2026).

Model hidup hemat secara keuangan itu ia sodorkan karena melihat efek tekanan ekonomi global bisa merambat ke Indonesia. Ditandai dengan mulai naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi yang telah naik signifikan, misalnya Pertamax Turbo (RON 98) yanh sudah dibandrol Rp19.400 per liter atau naik dari sebelumnya Rp13.100 per liter, dan Dexlite Rp23.600 per liter atau naik dari sebelumnya Rp14.200 per liter.

"Ketika harga BBM selangit, sudah pasti harga-harga bahan pokok pun akan naik karena proses distribusi bahan pokok yang memerlukan transportasi untuk mencapai konsumen. Nyatanya, hidup irit tidak ada salahnya. Kita bisa tetap irit (baca: bukan pelit) dengan menerapkan gaya hidup minimalis," dikutip dari tulisan Teresia di The Conversation, Sabtu (25/4/2026).

Menurut Teresia, financial minimalism sederhananya adalah cara hidup yang menyoroti antara kebutuhan dan keinginan seseorang. Untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, seseorang perlu memahami kebutuhan yang memang diperlukan dan esensial dalam hidup.

Langkah ini diikuti dengan praktik menyingkirkan hal-hal yang dianggap kurang esensial atau bahkan yang berpotensi menimbulkan ketergantungan. Gaya hidup minimalis menurut dia merupakan kebalikan dari konsumerisme dan menekankan pada pemenuhan kebutuhan yang berkualitas.

"Jadi, hidup minimalis bukanlah frugal living atau hidup seirit mungkin hingga harus mengorbankan kesejahteraan hidup. Konsep minimalisme mengedepankan konsumsi yang lebih berkelanjutan, yang memiliki kebermanfaatan dalam jangka waktu yang lebih panjang dan menyoroti hal-hal yang lebih penting, seperti kesehatan dan kesejahteraan," ucapnya.

Untuk bisa hidup dengan prinsip financial minimalism, ini cara yang ditawarkan Teresia:

1. Kurangi konsumsi tak mendesak

Menurutnya, hidup dengan sederhana secara keuangan bisa dilakukan dengan mengubah kebiasaan konsumsi. Misalnya, memilih kualitas ketimbang kuantitas dengan berinvestasi pada barang-barang yang berkualitas dan memiliki fungsi jangka panjang.

Lalu, mempertanyakan antara keinginan dan kebutuhan setiap kali hendak membeli sesuatu yang sifatnya bukan barang esensial. Setiap kali pertanyaan tersebut diajukan, kamu bisa menghindari pembelian impulsif yang seringnya tidak diperlukan.

2. Kurangi aplikasi belanja di ponsel

Meminimalisir platform digital yang bisa menuntun pada konsumsi impulsif menurutnya dapat menciptakan pola hidup dengan keuangan yang sederhana.

Ia menekankan pentingnya mengurangi aktivitas membandingkan harga antar platform. Dengan begitu, bisa terhindar dari berbagai promosi pemasaran online marketplace yang sebenarnya tidak begitu menguntungkan dan hanya meningkatkan perilaku konsumerisme .

Di samping itu, pertimbangkan untuk mengonsumsi sesuatu yang sifatnya memberikan pengalaman ketimbang sekadar material. Berinvestasi pada pengalaman dapat meningkatkan kesejahteraan ketimbang menambah material yang harganya bisa turun atau hanya memenuhi ruangan dan berubah menjadi tumpukan barang.

3. Rinci biaya pengeluaran tetap

Untuk merinci biaya-biaya tetap dan prioritas utama yang harus dikeluarkan seperti sewa rumah beserta kebutuhannya bisa mempertimbangkan pengeluaran rutin, seperti listrik, air, gas, internet, dan sebagainya, belanja kebutuhan rumah tangga per bulan, asuransi, dan transportasi.

Untuk menghindari pengeluaran impulsif, pakailah layanan auto-debet untuk sejumlah pengeluaran dasar yang sudah pasti harus dibayarkan setiap bulan. Misalnya, biaya kredit mobil atau rumah, asuransi, tabungan deposito atau biaya investasi. Dengan begitu, kita bisa memberikan batasan pada pengeluaran nonprioritas sehari-harinya.

Setelah menghitung seluruh biaya tersebut, beri tambahan 10% untuk biaya-biaya tak terduga dari total biaya. Jangan masukan alokasi hiburan makan di luar, atau belanja di luar kebutuhan esensial.

Setelah mendapatkan angka yang pasti, angka tersebutlah yang akan menjadi acuan hidup setiap bulan. Artinya, kita perlu mencari pemasukan yang bisa menutup bujet prioritas utama terlebih dahulu.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research