Emiten RI Ini Bisa Cuan di Tengah Perang dan Ancaman Krisis Energi Dunia

9 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham migas dan batu bara potensial diuntungkan menyusul penyetopan fasilitas produksi gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) terbesar di dunia yang dimiliki QatarEnergy setelah serangan dari Iran.

Kompleks Ras Laffan yang dikelola perusahaan tersebut menyumbang sekitar 20% dari total pasokan LNG global.

Penghentian operasi yang disebut sebagai peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia dan menimbulkan gejolak di pasar internasional.

Dampaknya langsung terasa pada pasar energi, di mana harga gas berjangka acuan Eropa melonjak signifikan. Bahkan, kenaikannya menjadi yang terbesar sejak krisis energi tahun 2022 yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina, dengan lonjakan harga sempat mencapai sekitar 54% hanya dalam sehari.

Adapun pada Rabu malam (4/3/2026), harga kontrak berjangka gas alam Eropa sempat turun lebih dari 11% menjadi €47,5 per megawatt-hour (MWh) sebelum ditutup di €48,77 per MWh. Harganya setelah sebelumnya mencatat lonjakan hampir 60% dalam waktu dua hari perdagangan beruntun.

Selain gas alam, harga batu bara juga melonjak tajam, pada Selasa kemarin (3/3/2026) sempat melonjak sampai US$ 138 per ton, merupakan level tertinggi sejak November 2024.

Harga batu bara juga merespon kabar dari penyetopan produksi LNG di Qatar Energy seiring posisi-nya sebagai substitusi energi, sehingga mendongkrak demand meningkat di tengah gejolak geopolitik di Timur Tengah.

Karena harga migas-batu bara kembali moncer kami melihat ada sejumlah emiten yang potensial diuntungkan seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU).

Selain itu, PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) juga potensial diuntungkan sebagai pemain utama LNG domestik. Perusahaan ini memiliki anak usaha yang fokus di bisnis LNG, yaitu PGN LNG Indonesia.

Bisnis utamanya adalah trading LNG domestik dan internasional, pengelolaan FSRU Lampung, revitalisasi Tangki LNG Arun, dan pengembangan infrastruktur small-scale guna memenuhi kebutuhan industri dan smelter.

Sementara itu, untuk saham batu bara kami melirik emiten yang masih di zona aman karena terhindar dari pemangkasan signifikan dari RKAB 2026 produksi batu bara yang akan segera diputuskan akhir Maret ini.

Kementerian ESDM memastikan tidak semua perusahaan terkena pemangkasan kuota RKAB 2026. Terdapat pengecualian bagi perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara (PKP2B) Generasi 1 serta BUMN pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP).

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menjelaskan bahwa kelompok ini dinilai memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan negara, baik melalui royalti maupun pembagian keuntungan, sehingga produksinya tetap dipertahankan.

Adapun perusahaan pemegang PKP2B Generasi 1 yang telah beralih menjadi IUPK antara lain :

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research