Ekspor Senjata ke Timur Tengah Melonjak Tajam, Siapa yang Borong?

4 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

07 March 2026 08:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Memanasnya konflik di Timur Tengah dinilai bukan hanya memperburuk situasi geopolitik global, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan permintaan senjata di kawasan tersebut. Pandangan ini datang langsung dari pelaku industri pertahanan Eropa, di saat perang dan ketegangan regional kembali menjadi perhatian utama pasar.

CEO perusahaan pertahanan Jerman Renk, Alexander Sagel, mengatakan perang Iran dan krisis yang kini berkembang di Timur Tengah bisa memicu peningkatan kebutuhan pertahanan di kawasan tersebut.

Menurutnya, konflik yang terus membesar membuka peluang naiknya belanja militer, baik untuk sistem pertahanan udara, amunisi, maupun kebutuhan kekuatan darat.

"Krisis yang terjadi saat ini di Timur Tengah, perang Iran, secara keseluruhan dapat mendorong peningkatan permintaan kemampuan pertahanan di kawasan ini," ujar Alexander Sagel, dikutip dari CNBC International.

Ia juga menegaskan bahwa konflik tersebut bisa memicu belanja pertahanan yang lebih luas di berbagai lini.

Pernyataan itu menjadi sorotan karena datang di tengah meningkatnya perhatian terhadap potensi lonjakan permintaan industri pertahanan global.

Renk sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang teknologi penggerak militer, termasuk untuk kendaraan tempur infanteri atau infantry fighting vehicle (IFV), serta menjadi pemasok bagi banyak perusahaan pertahanan besar.

Sagel sebelumnya juga mengungkapkan bahwa perusahaannya telah menerima pesanan pertama untuk prototipe IFV baru dari salah satu negara Teluk. Proyek itu disebut akan dikembangkan dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Hal ini menjadi sinyal bahwa kawasan Timur Tengah masih menjadi pasar yang sangat penting bagi industri senjata global.

Seberapa Besar Pasar Timur Tengah?

Bila melihat datanya, Timur Tengah memang masih menjadi salah satu pasar senjata terbesar di dunia.

Laporan terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan bahwa Timur Tengah menyumbang lebih dari seperempat atau tepatnya 27% dari total impor senjata global pada periode 2020-2024.

Sementara itu, Afrika Utara menyumbang 2,2%. Karena keterkaitan geografis, sejarah, dan dinamika keamanan, kedua kawasan ini kerap dipandang sebagai satu wilayah besar yakni Middle East and North Africa (MENA).

SIPRIFoto: SIPRI
SIPRI

Meski demikian, impor senjata ke Timur Tengah pada 2020-2024 sebenarnya turun 20% dibandingkan periode 2015-2019. Namun, dalam laporannya SIPRI menulis kawasan ini hampir pasti tetap menjadi wilayah impor senjata yang besar, mengingat masih banyak pesanan yang belum dikirim.

Dalam daftar importir terbesar dunia, dominasi MENA juga masih sangat kuat.

Empat dari 10 importir senjata terbesar dunia pada 2020-2024 berasal dari kawasan ini, yaitu Qatar di peringkat ketiga, Arab Saudi peringkat keempat, Mesir peringkat kedelapan, dan Kuwait di posisi kesepuluh.

Dari sisi pemasok, Amerika Serikat (AS) masih menjadi pemain utama di pasar Timur Tengah. Sekitar 50% impor senjata negara-negara MENA pada 2020-2024 berasal dari AS. Setelah itu disusul Italia 12%, Prancis 9,7%, dan Jerman 7,6%.

Sebaliknya, peran Rusia turun sangat tajam. Pangsa Rusia dalam pasokan senjata ke kawasan ini anjlok dari 18% pada 2015-2019 menjadi hanya 4,1% pada 2020-2024. Sementara China hanya menyumbang 1,2%.

Data ini memperlihatkan bahwa pasar senjata Timur Tengah masih sangat besar, tetapi juga sangat terkonsentrasi pada pemasok Barat, terutama Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Negara Teluk Masih Jadi Mesin Utama

Di antara negara-negara kawasan, Arab Saudi tetap menjadi salah satu pembeli terbesar. Meski impor senjatanya turun 41% dibanding periode sebelumnya, Arab Saudi masih menyumbang 23% dari total impor senjata MENA pada 2020-2024.

Pemasok utama Arab Saudi adalah AS dengan pangsa 74%, disusul Spanyol 10% dan Prancis 6,2%.

Sementara itu, dua negara Teluk lain justru mencatat lonjakan sangat tajam. Impor senjata Kuwait melonjak 466%, sedangkan Bahrain melejit 898% dibanding periode 2015-2019.

SIPRIFoto: SIPRI
SIPRI

Untuk Kuwait, AS menyuplai 63% impor senjatanya, diikuti Italia 29% dan Prancis 7,1%. Adapun Bahrain sangat bergantung pada AS, dengan pangsa mencapai 97% dari total impor senjatanya pada 2020-2024.

Uni Emirat Arab juga tetap menjadi pasar penting, meski impornya turun 19%. SIPRI mencatat UEA masih memiliki sejumlah pesanan yang belum dikirim, termasuk sistem pertahanan udara dari Korea Selatan, pesawat tempur dari Prancis, dan helikopter tempur dari AS.

Jomplang, Israel Besar di Impor Senjata, Iran Sangat Kecil

Di luar negara-negara Teluk, Israel juga tetap menjadi importir penting. SIPRI mencatat Israel merupakan importir senjata terbesar keenam di Timur Tengah dan peringkat ke-15 dunia. Pada 2020-2024, AS menjadi pemasok utamanya dengan pangsa 66%, sedangkan Jerman 33%.

Israel disebut masih sangat bergantung pada bantuan militer AS untuk kemampuan konvensional utama, termasuk pesawat tempur, rudal, bom berpemandu, dan kendaraan lapis baja.

Sebaliknya, Iran justru mengimpor senjata dalam volume yang sangat kecil. Pangsa impor Iran hanya 0,2% dari total impor senjata MENA pada 2020-2024. Dalam periode itu, Rusia bahkan tercatat sebagai satu-satunya pemasok Iran.

Kondisi ini menunjukkan kontras yang sangat besar di dalam kawasan. Di satu sisi, negara-negara Teluk dan Israel tetap aktif memborong persenjataan. Di sisi lain, Iran memiliki akses yang jauh lebih terbatas terhadap pasar senjata internasional.

Di tengah konflik yang belum mereda, pernyataan bos Renk tadi pun menjadi semakin relevan. Timur Tengah bukan hanya kawasan yang memanas secara politik dan militer, tetapi juga tetap menjadi salah satu pasar paling strategis bagi industri senjata global.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research