REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada dosa yang tidak hanya merusak pelakunya, tetapi juga menyeret sebuah peradaban menuju kehancuran.
Ada maksiat yang tidak berhenti sebagai pelanggaran pribadi, melainkan berubah menjadi budaya, dibela, dinormalisasi, bahkan dibanggakan. Ketika sebuah masyarakat sampai pada titik itu, sejarah menunjukkan bahwa kehancuran sering kali tinggal menunggu waktu.
Alquran mengabadikan salah satu contoh paling terkenal dalam sejarah manusia: kaum Sodom, kaum yang didatangi Nabi Luth AS. Kisah mereka bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan peringatan tentang bagaimana sebuah masyarakat dapat kehilangan kompas moral hingga menolak kebenaran yang datang kepada mereka.
Nama Nabi Luth disebut sebanyak 27 kali dalam Alquran. Ia adalah keponakan Nabi Ibrahim AS. Berbeda dengan banyak nabi lain yang diutus kepada kaumnya sendiri, Nabi Luth justru diutus kepada bangsa yang bukan berasal dari garis keturunannya.
Setelah berhijrah bersama Nabi Ibrahim ke wilayah Syam, Allah SWT memerintahkan Nabi Luth untuk mendatangi penduduk Sodom dan menyeru mereka kepada tauhid serta kehidupan yang lurus. Namun masyarakat yang dihadapinya bukanlah masyarakat biasa.
Di tengah kemajuan dan kehidupan mereka, kaum Sodom dikenal melakukan perbuatan yang belum pernah dilakukan oleh umat manusia sebelumnya. Mereka menjadikan hubungan sesama jenis sebagai kebiasaan yang terbuka. Bahkan perilaku itu bukan lagi dianggap penyimpangan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sosial mereka.
Allah SWT mengabadikan seruan Nabi Luth kepada kaumnya dalam firman-Nya:
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ
Wa lūṭan idz qāla liqaumihī ata'tūnal fāḥisyata mā sabaqakum bihā min aḥadin minal 'ālamīn.
"Dan (Kami juga telah mengutus) Luth kepada kaumnya. (Ingatlah) ketika dia berkata kepada mereka: 'Mengapa kamu mengerjakan perbuatan yang sangat keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun di antara umat-umat sebelum kamu?'" (QS Al-A'raf: 80)
Para mufasir menjelaskan bahwa kata al-fahisyah dalam ayat tersebut menunjuk kepada perbuatan yang sangat keji dan melampaui batas. Nabi Luth menegaskan bahwa perilaku tersebut belum pernah dilakukan oleh umat manusia sebelum mereka.
Namun peringatan itu tidak membuat mereka sadar. Sebaliknya, mereka justru semakin keras menolak dakwah Nabi Luth.
Dalam berbagai ayat Alquran disebutkan bahwa mereka mengejek, menentang, bahkan berusaha mengusir Nabi Luth dan para pengikutnya dari negeri mereka.

3 hours ago
1















































