Diajak Gibran ke Ende, NTT, Mahasiswa Kini Setuju Program MBG

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, ENDE -- Wakil Presiden (Wapres) RI Gibran Rakabuming Raka mengungkapkan, alasan mengajak perwakilan mahasiswa ikut dalam kunjungan ke beberapa daerah di Indonesia timur. Salah satunya mendatangi SMPN 1 Ndona dan Sekolah Dasar Negeri (SDN), Kampung Wolomoni, Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (18/6/2026).

Menurut dia, langkah tersebut dilakukan agar mahasiswa dapat melihat langsung kondisi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Termasuk kebutuhan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)

Di hadapan warga Wolomoni, Gibran secara terbuka menyinggung adanya kelompok mahasiswa yang sebelumnya menyampaikan kritik penolakan terhadap program MBG. Dia mengakui, tidak sedikit mahasisea yang meminta agar program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut dihentikan.

"Oke. Ya, ini kan Bapak, Ibu, ya. Ini kan saya ajak perwakilan dari mahasiswa. Kemarin banyak yang demo protes agar MBG ini disetop. Makanya hari ini mereka saya ajak ke area yang jauh dari Jakarta," kata Gibran di lokasi, Kamis.

Menurut Gibran, penilaian terhadap program pemerintah perlu melihat langsung kondisi masyarakat di lapangan, terutama di wilayah yang akses terhadap layanan dasar masih terbatas. RI 2 pun menggambarkan perjalanan menuju lokasi SD tersebut yang tidak mudah dan memperlihatkan tantangan yang dihadapi warga sehari-hari.

"Jadi ini adalah area yang sangat jauh dari perkotaan. Ini tadi kita ke sini hampir 45 menit dari sekolah yang sebelumnya," ucap Gibran.

Setelah melihat kondisi langsung di Wolomoni, Gibran menegaskan, daerah seperti di Ende justru menjadi wilayah yang paling membutuhkan keberadaan MBG. "Dan kalau saya pribadi, ini mohon nanti dikoreksi, silakan kalau ada masukan, area-area yang seperti ini tuh justru yang paling membutuhkan MBG," katanya.

Dalam kesempatan itu, Gibran juga menyoroti kesiapan dapur MBG di wilayah tersebut yang menurut laporan sudah selesai dibangun. Faktanya, malah belum beroperasi karena masih menunggu proses inspeksi dan izin pelaksanaan.

Karena itu, ia meminta agar proses administrasi dapat dipercepat agar pelayanan segera berjalan. "Makanya tadi kalau dapurnya sudah siap, ya ini otomatis harus kita percepat perizinannya," ujar Gibran.

Meski mempertahankan keberlanjutan program, Gibran mengakui, pelaksanaan MBG masih memiliki banyak pekerjaan rumah dan perlu evaluasi. "Kalau sekali lagi, kalau saya pribadi, ini harus dilanjutkan, terutama di daerah 3T. Daerah 3T," jelas Gibran.

"Tapi Bapak, Ibu, saya sadar ini MBG ini masih banyak kekurangannya dan kemarin juga kepalanya baru saja ditangkap, ini memang ke depan harus lebih banyak lagi perbaikan. Tata kelolanya diperbaiki biar lebih efisien, jangan lagi ada pengadaan-pengadaan barang yang tidak sesuai, dan yang paling penting praktik-praktik korupsinya harus dihilangkan," katanya menambahkan.

Di akhir dialog, Gibran mengungkapkan, kehadiran mahasiswa dalam kunjungan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bersama terhadap pelaksanaan program prioritas pemerintah di daerah 3T. "Makanya ini saya ajak teman-teman mahasiswa perwakilan dari beberapa kampus untuk melihat bagaimana keadaan warga di area 3T seperti ini."

Sementara itu salah seorang mahasiswa Unsoed Purwokerto, Rapir Bena Martin mengaku, setuju dengan program MBG dan KDMP. Menurut dia, program tersebut selain bisa menggerakkan ekonomi hingga pencegahan stunting.

"Di sini diberikan kesempatan yang berharga untuk bisa melihat secara langsung bagaimana sih kondisi masyarakat khususnya dalam program-program prioritas Presiden seperti MBG atau KDMP dan memang saya setuju," katanya.

Dia melanjutkan, "Bapak bersama teman-teman yang lain bahwasanya program-program prioritas Presiden seperti makan bergizi gratis bagi anak-anak, sebagai upaya pencegahan stunting, terus juga untuk menggerakkan ekonomi masyarakat melalui KDMP, itu harus diprioritaskan dan diutamakan di daerah-daerah 3T, supaya apa? Supaya tidak terjadi kesenjangan antara kehidupan di kota maupun kehidupan di daerah 3T."

Rapir bahkan menegaskan, siap berkontribusi untuk membangun wilayah 3 T. "Ini jadi tugas kita bersama, kami pun juga dari mahasiswa siap berkontribusi untuk bisa selalu mensukseskan dan juga membenahi, mengevaluasi apa yang menjadi kurang kami selama ini," katanya mengakhiri.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research