Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
04 March 2026 10:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan pasar aset kripto pada perdagangan pekan ini menunjukkan resiliensi yang menarik di tengah eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran.
Berbeda dengan pola tradisional di mana investor biasanya memburu emas fisik saat terjadi krisis, pasar dalam waktu beberapa hari ini melihat adanya pergeseran arus modal. Di saat harga emas global justru mengalami tekanan turun akibat aksi perang saat ini, Bitcoin (BTC) berhasil mencatatkan kinerja mingguan yang positif.
Hal ini mengindikasikan adanya potensi transisi fungsi Bitcoin sebagai aset safe haven alternatif, terutama bagi pelaku pasar di kawasan regional yang terdampak.
Kinerja Positif Bitcoin dan Ethereum
Berdasarkan data perdagangan terkini, Bitcoin (BTC) diperdagangkan pada level $68.261,90. Meskipun mencatatkan koreksi kecil sebesar -0,52% dalam 24 jam terakhir, Bitcoin secara akumulatif masih membukukan penguatan sebesar +3,03% dalam sepekan.
Momentum positif ini menunjukkan bahwa tekanan jual yang sempat mendominasi pasar mulai mampu diserap oleh permintaan baru dari investor di daerah timur tengah.
Kondisi serupa juga terlihat pada Ethereum (ETH). Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua ini diperdagangkan di level $1.976,90. Walaupun mengalami pelemahan harian sebesar -1,77%, secara mingguan ETH masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar +2,17%, menjaganya agar tetap berada di dekat level psikologis $2.000.
Dinamika Sektor Altcoin: Solana dan LEO Memimpin
Di sektor altcoin, sentimen pasar terbagi, namun beberapa aset kapitalisasi besar menunjukkan daya tahan yang solid. Solana (SOL) dan BNB menjadi penopang utama dengan kenaikan mingguan masing-masing sebesar +5,67% (ke level $86,98) dan +5,66% (ke level $632,50).
Selain itu, token utilitas bursa UNUS SED LEO (LEO) mencatatkan kinerja mingguan terbaik di jajaran aset utama dengan penguatan +7,76% ke level $9,21. Di sisi lain, beberapa aset seperti Bitcoin Cash (BCH) dan Dogecoin (DOGE) masih tertinggal dengan mencatatkan koreksi mingguan masing-masing sebesar -11,19% dan -4,74%.
Korelasi Geopolitik: Pergeseran dari Emas ke Bitcoin
Faktor fundamental yang menjadi sorotan utama pekan ini adalah korelasi antara dinamika geopolitik di Iran dan pergerakan aset store of value. Secara historis, memanasnya tensi militer atau politik di Timur Tengah akan langsung memicu lonjakan tajam pada harga emas.
Namun, yang terjadi belakangan ini justru sebaliknya, harga emas global mengalami penurunan pasca peristiwa akibat fenomena sell on news, di mana investor merealisasikan keuntungan setelah ekspektasi peristiwa tersebut terjadi.
Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di US$ 5086,47 per troy ons atau ambruk 4,5% pada perdagangan Selasa (3/3/2026).
Pelemahan ini memutus reli lima hari beruntun dengan penguatan 3,5%.
Pelemahan ini juga membawa harga emas ke titik terendah sejak 19 Februari 2026 atau delapan hari beruntun.
Di saat bersamaan, naiknya harga Bitcoin dalam sepekan terakhir memberikan indikasi bahwa sebagian likuiditas dari kawasan Timur Tengah mungkin mengalir ke pasar kripto.
Dalam situasi krisis atau ketidakpastian perbankan regional, Bitcoin menawarkan keunggulan sebagai aset nirbatas, likuid, dan tidak terikat pada yurisdiksi bank sentral tertentu.
Transisi likuiditas ini memperkuat narasi bahwa Bitcoin perlahan mulai difungsikan sebagai safe haven digital oleh investor yang mencari alternatif perlindungan kekayaan di luar sistem finansial tradisional.
Sehingga dapat disimpulkan apabila suatu negara mengalami kekacauan ekonomi secara struktural, disitulah pergerakan harga Bitcoin mulai berjalan karena nilai mata uang domestik suatu negara tersebut sudah tidak berharga.
Outlook Pasar
Ke depan, masuknya arus pembelian dari masyarakat di Timur Tengah akibat situasi perang berpotensi mendorong harga Bitcoin untuk kembali menguji area resistensi di kisaran US$72.000. Kenaikan jangka pendek ini merupakan respons reaktif terhadap kebutuhan hedging yang mendesak dari wilayah terdampak konflik.
Kendati demikian, kenaikan menuju level $72.000 ini berpotensi dipandang sebagai relief rally atau pantulan sementara. Secara makroekonomi dan berdasarkan historis siklus empat tahunan, pasar masih berada dalam tren konsolidasi menuju titik dasar.
Setelah momentum pembelian geopolitik ini mereda, Bitcoin diproyeksikan akan kembali melanjutkan tren penurunannya. Namun target utama akumulasi jangka panjang tetap berada di rentang harga $40.000 hingga $45.000, yang diperkirakan akan menjadi cycle bottom pada Kuartal III atau Kuartal IV 2026.
Oleh karena itu, disiplin dalam manajemen risiko dan kehati-hatian dalam menempatkan modal masih menjadi pendekatan yang paling disarankan saat ini kenaikan ini bersifat sementara tetap preserve capital untuk the longer game. Namun ini dapat berubah sewaktu-waktu melihat arah money flow yang terjadi real time di pasar.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google













































