- Pasar keuangan Indonesia ditutup kompak pada area penguatan, IHSG dan rupiah ada di zona hijau
- Wall Street mayoritas melemah tertekan ketidakpastian
- Inflasi AS dan kelanjutan perang di Iran menjadi penggerak pasar pada hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup menguat pada perdagangan kemarin Selasa (10/3/2026). Bursa saham naik, rupiah dan SBN melandai pada perdagangan kemarin.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih menghadapi tekanan yang cukup berat pada hari ini walaupun rebound sudah terjadi akibat kinerja yang kurang baik pada beberapa hari ini di pasar keuangan Indonesia.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) balik menguat pada perdagangan kemarin Selasa (10/3/2026) usai anjlok tajam sehari sebelumnya.
IHSG yang tercatat sempat melesat 2,2% dan nyaris menyentuh level 7.500 pada awal perdagangan, harus puas memangkas penguatan dan tersisa 1,41% atau naik 103 poin ke 7.440,91 pada akhir sesi kedua.
Sebanyak 534 saham naik, 190 turun, dan 93 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 19,16 triliun, melibatkan 336,26 miliar saham dalam 2,03 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar terkerek menjadi Rp 13.338 triliun.
Nyaris seluruh sektor perdagangan menguat dengan kenaikan terbesar dicatatkan oleh energi dan barang baku, sedangkan hanya sektor infrastruktur dan teknologi yang tercatat melemah kemarin.
Sejumlah emiten yang tercatat menjadi penggerak utama kinerja IHSG kemarin termasuk DSSA, BRMS, BBCA, BMRI dan BYAN.
Sebelumnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada perdagangan dua hari yang lalu, Senin (9/3/2026). IHSG terpantau sempat menyentuh level terendah minus -5,2% ke level 7.156, namun memangkas koreksi menjadi -3,27% atau anjlok 248 poin ke level 7.337,37.
Lanjut ke nilai tukar Rupiah, Rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin, Selasa (10/3/2026). Seiring pelemahan dolar AS di pasar global.
Melansir data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup menguat 0,47% atau terapresiasi ke level Rp16.855/US$.
Penguatan ini sekaligus membalikkan pelemahan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah sempat menyentuh level Rp16.990/US$ sebelum akhirnya ditutup melemah 0,15% di posisi Rp16.935/US$ pada Senin (9/3/2026).
Pada perdagangan kemarin, rupiah memang sudah menunjukkan penguatan sejak awal sesi. Rupiah dibuka terapresiasi 0,62% di level Rp16.830/US$ dan bergerak dalam rentang Rp16.830/US$ hingga Rp16.890/US$ sepanjang perdagangan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,67% ke level 98,515.
Penguatan rupiah pada perdagangan kemarin ditopang kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
Dari eksternal, pelemahan dolar AS di pasar global menjadi faktor utama yang menopang rupiah. Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terkoreksi pada perdagangan kemarin, setelah sehari sebelumnya sempat melonjak tajam akibat kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang di Timur Tengah.
Tekanan terhadap dolar AS mulai mereda setelah Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan media asing menyebut perang melawan Iran sudah "sangat tuntas".
Pernyataan ini sedikit meredakan kekhawatiran investor terhadap konflik berkepanjangan yang berpotensi mengganggu pasokan energi global dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.
Sebelumnya, perang AS-Israel melawan Iran sempat mengguncang pasar keuangan global dan memicu lonjakan harga minyak. Situasi tersebut sempat mendorong investor memburu aset aman, termasuk dolar AS.
Namun, dengan mulai meredanya sebagian kekhawatiran pasar, pelaku pasar kini mengurangi kepemilikan aset berdenominasi dolar. Kondisi ini membuka ruang bagi penguatan mata uang lain, termasuk rupiah.
Sementara dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari data penjualan eceran. Bank Indonesia (BI) melaporkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 tumbuh 5,7% secara tahunan.
Lanjut ke pasar obligasi domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun saat ini terindikasi pada level 6,692%,melonjak dari hari sebelumnya di level 6,741%. Kenaikan imbal hasil ini menandai aksi jual investor sehingga harga jatuh dan imbal hasil naik.
Addsource on Google















































