Oleh: Andri Saubani, Jurnalis Republika.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dari Jakarta ke Teheran, lalu sampai juga di Qom hingga kembali lagi ke Teheran. Rute itu adalah ringkasan perjalanan saya sebagai jurnalis Republika pada 3 hingga 9 Juli lalu di Iran saat meliput proses pemakaman (tasyi) Pemimpin Tertinggi Iran almarhum Ayatollah Ali Khamenei.
Meski tak paripurna meliput Sang Rahbar hingga peristirahatan abadi jasadnya di Kota Mashad, saya tetap merasa bersyukur mendapatkan kesempatan melakoni perjalanan ini atas undangan Kedutaan Besar Iran di Jakarta dan bantuan dari Bayan Media di Teheran. Janji kepada pembaca bahwa saya akan meliput dari jarak yang dekat sejak tiba di Teheran bisa dibilang kesampaian.
Khususnya saat di kota Qom pada Selasa (7/7/2026), saya berhasil menyaksikan sekaligus mengabadikan momen kala iring-iringan peti jenazah Khamenei diarak lautan manusia melintas seusai dishalatkan di Masjid Jamkaran. Dari rooftop sebuah gedung entah lantai berapa tingginya, saya sedikit nekat memanjat dan merambat di balkon yang belum rampung konstruksinya untuk mendapatkan sudut pandang paling baik saat jurnalis dan pemengaruh lain menggambil gambar dari spot berbeda.
Pengalaman perjalanan dari Teheran ke Qom pada Selasa dini hari pun tak kalah serunya. Lewat dua kali penundaan keberangkatan dari hotel tempat saya menginap di Teheran, panitia seakan ingin menyeleksi anggota rombongan yang benar-benar siap untuk berangkat. Dari yang awalnya dijadwalkan berangkat Senin malam pukul setengah delapan, lalu ditunda ke setengah sepuluh malam atas berbagai alasan, saya dan beberapa peliput dari berbagai negara akhirnya meninggalkan hotel menuju ke Qom saat jam menunjukkan pukul 00.15 waktu Teheran.
Saya menganalogikan rute Teheran ke Qom seperti Jakarta-Bandung melalui jalur darat. Perjalanan malam itu ditempuh sekira 3 jam dan hampir nonstop via jalan tol yang rasanya hampir seperti kalau kita mengakses jalur Cipularang jika ingin melancong ke Kota Kembang.
Sekitar pukul 03.30, rombongan sampai di kompleks Masjid Jamkaran di mana lautan manusia sudah berkumpul sejak malam sebelumnya, padahal jadwal shalat jenazah baru dimulai pukul 06.00 esok paginya. "Qom berada di level yang berbeda hari itu," ujar salah seorang diaspora Indonesia yang telah lama tinggal di Qom kepada saya.
Saya pun merasakan sensasi dan energi yang berbeda di Qom jika dibandingkan dengan selama beberapa hari di Teheran sebelumnya. Di kota suci itu, mereka yang datang untuk ikut menshalatkan dan mendoakan Ali Khamenei tak cuma warga lokal, tapi konon juga dari berbagai penjuru Iran.
Di bawah terik Matahari yang suhu panasnya mencapai lebih dari 40 derajat Celcius, mereka para tua, muda, hingga anak-anak tumpah ruah di jalan-jalan di sekitaran Masjid Jamkaran. Banyak juga bayi di dalam stroller yang didorong orang tua mereka ikut diajak untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Sang Rahbar.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
2
















































