Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
14 April 2026 11:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Pecahnya konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat (AS) sejak akhir Februari lalu telah memicu aksi jual di hampir seluruh bursa global dan berbagai kelas aset.
Para pelaku pasar secara aktif menyesuaikan portofolio untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi dan dampaknya terhadap inflasi serta laju pertumbuhan ekonomi dunia.
Di tengah volatilitas yang melanda pasar keuangan, aset China justru menunjukkan kilaunya. Pasar modal dan obligasi negara tersebut kini mulai dinilai oleh investor global sebagai pilihan investasi pelindung nilai atau safe haven.
Sejak pertengah Februari 2026 lalu, tercatat fenomena di mana pergerakan saham dan obligasi di China berjalan secara selaras dengan korelasi yang berbalik positif.
Stabilitas ini merupakan cerminan dari upaya jangka panjang Beijing dalam memitigasi risiko guncangan harga komoditas global, terutama energi, pada perekonomian domestiknya.
Fondasi Ketahanan Energi dan Kemandirian Strategis
Meskipun berstatus sebagai salah satu importir minyak terbesar di dunia, China sejauh ini berhasil meminimalkan dampak dari krisis energi yang dipicu oleh penutupan efektif kawasan Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang melayani sembilan persen pasokan minyak dunia.
Ketahanan ini dibangun melalui upaya diversifikasi bauran energi selama beberapa tahun terakhir dan akumulasi cadangan strategis.
Berdasarkan data energi global, China saat ini memiliki cadangan lebih dari 1,2 miliar barel minyak yang diimbangi dengan sumber daya energi alternatif domestik seperti batu bara, pengembangan energi terbarukan, serta gas alam cair (LNG).
Struktur energi ini membuat postur makroekonomi China menjadi lebih adaptif terhadap pergolakan di kawasan Timur Tengah. Selain itu, pembatasan akses teknologi dan sengketa dagang dengan Amerika Serikat sejak 2018 secara tidak langsung telah mempercepat kemandirian industri China, memberikan ruang yang lebih luas bagi pasar modal mereka dari sentimen eksternal.
Stabilitas Pasar Ekuitas di Tengah Volatilitas Global
Daya tahan aset China terlihat pada pergerakan pasar sahamnya bila dibandingkan dengan bursa utama dunia, khususnya Amerika Serikat. Berdasarkan data pergerakan indeks sepanjang awal Maret hingga pertengahan April 2026, ekuitas China mencatatkan volatilitas yang lebih rendah.
Sebagai gambaran, indeks S&P 500 di Amerika Serikat mengalami fluktuasi yang signifikan. Pada awal Maret, S&P 500 berada di level 6.881,62, kemudian terkoreksi cukup dalam hingga menyentuh titik terendah di level 6.343,72 pada akhir Maret akibat kekhawatiran atas inflasi dan suku bunga, sebelum akhirnya kembali ke kisaran 6.816,89 pada 10 April.
Sebaliknya, indeks acuan saham unggulan China, CSI 300, menunjukkan pergerakan yang lebih moderat. Dari level 4.728,66 pada awal Maret, indeks ini hanya mengalami penyesuaian ke level 4.646,15 pada 13 April, mencatatkan penurunan di bawah 2%.
Indeks Shanghai Composite (SSEC) juga bergerak dalam rentang yang terbatas, dengan moderasi sekitar lima persen dari level 4.182,59 ke 3.988,55 pada periode yang sama.
Obligasi Pemerintah dan Divergensi Kinerja Relatif
Selain pasar saham, obligasi pemerintah China (CGB) juga menunjukkan stabilitas di saat instrumen investasi tradisional, seperti obligasi pemerintah AS (US Treasury), mengalami fluktuasi tajam. Data historis pergerakan imbal hasil (yield) obligasi tenor 10 tahun memperlihatkan divergensi yang mencolok antara kedua negara.
Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun mengalami lonjakan dari 4,05% pada awal Maret menjadi 4,33% pada pertengahan April 2026. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan koreksi pada harga obligasi AS akibat ekspektasi pasar bahwa tekanan inflasi akan kembali meningkat.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi 10 tahun China tetap berada dalam tren yang stabil. Dari posisi 1,80% pada awal Maret, yield tersebut sedikit melandai dan bertahan di kisaran 1,79% pada pertengahan April, mengindikasikan apresiasi harga obligasi yang didorong oleh tingginya minat beli.
Perbedaan arah pergerakan ini terkonfirmasi secara lebih rinci melalui data kinerja relatif (relative performance) antara instrumen obligasi kedua negara. Pada awal Maret, selisih kinerja relatif antara obligasi pemerintah China (CN10Y) terhadap obligasi AS (US10Y) berada di level -3,25%.
Namun, seiring dengan eskalasi tekanan di pasar global, divergensi ini semakin melebar secara konsisten hingga mencapai -9,77% pada pertengahan April.
Pelebaran selisih persentase ini secara teknis menunjukkan bahwa pasar obligasi China merespons gejolak makroekonomi secara independen dan terisolasi dari tekanan jual yang melanda pasar utang Amerika Serikat.
Dinamika Arus Modal dan Prospek Ke Depan
Ketahanan aset China ini juga ditopang oleh struktur kepemilikannya. Meskipun memegang bobot yang dominan di dalam indeks MSCI Emerging Markets, porsi kepemilikan investor asing terhadap saham dan obligasi China secara umum berada di bawah 5%.
Rasio yang relatif kecil ini memberikan pembatasan alami terhadap risiko aksi jual paksa berskala besar dari manajer investasi global saat terjadi kepanikan di bursa internasional.
Pada saat yang bersamaan, likuiditas sistem keuangan domestik yang memadai turut menopang stabilitas pasar aset. Terdapat pula indikasi penyesuaian portofolio dari aliran dana institusional global.
Setelah menempatkan China pada posisi underweight selama beberapa waktu, sebagian pengelola dana mulai menaikkan alokasinya kembali menuju level netral. Tanda-tanda pemulihan aktivitas ekonomi dan meredanya tekanan deflasi di tingkat pabrik turut memberikan sentimen positif bagi pelaku pasar.
Ke depannya, korelasi positif yang terbentuk antara saham dan obligasi China diperkirakan akan tetap menjadi faktor penarik investasi selama ketidakpastian geopolitik global masih memengaruhi prospek ekonomi negara-negara barat.
Walaupun isu domestik terkait sektor properti dan tingkat konsumsi rumah tangga masih menjadi fokus penyelesaian bagi pemerintah, indikator kemandirian pasar ini menunjukkan bahwa aset China dapat berfungsi sebagai instrumen diversifikasi portofolio alternatif di tengah siklus volatilitas pasar.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)














































