Bursa Kripto Rontok, Bitcoin Cs Jatuh Usai Bandar "Kabur" Ambil Untung

7 hours ago 3

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

09 March 2026 10:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar aset kripto mengawali pekan ini dengan fase koreksi yang setelah mengalami volatilitas tinggi pada akhir pekan lalu.

Eskalasi ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang kian memanas sebelumnya telah memicu aksi pembelian reaktif, yang secara akurat mendorong harga Bitcoin (BTC) menyentuh target area resistensi jangka pendek di kisaran US$71.000 hingga US$72.000.

Saat ini, sentimen pasar mulai bergeser. Para pelaku pasar terpantau mulai melakukan aksi profit taking seiring dengan telah terpriced-innya peristiwa geopolitik tersebut, membawa pasar kembali fokus pada prospek fundamental dan likuiditas makroekonomi jangka menengah.

Kinerja Pasar: Bitcoin dan Ethereum Memasuki Fase Koreksi Wajar

Berdasarkan data perdagangan terkini, Bitcoin (BTC) diperdagangkan pada level US$66.486,55. Aset kripto utama ini mencatatkan pelemahan harian sebesar -1,05%, namun secara mingguan pergerakannya cenderung stagnan dengan apresiasi tipis sebesar +0,18%.

Penurunan harga dari level puncak US$72.000 ke kisaran US$66.400 merupakan indikasi normal dari fase penyesuaian pasar setelah target relief rally (pantulan sementara) tercapai.

Kondisi serupa dialami oleh Ethereum (ETH) yang saat ini berada di level US$1.956,93. Ethereum mencatatkan penurunan minor sebesar -0,32% dalam 24 jam terakhir dan nyaris tidak berubah secara mingguan (+0,04%).

Bertahannya kedua aset utama ini di kisaran level tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual pasca-kenaikan belum sepenuhnya menguasai pasar, namun momentum pembelian dorongan juga mulai mereda.

Dinamika Altcoin: Penyesuaian Harga Mayoritas Aset

Pada sektor altcoin, mayoritas aset kapitalisasi besar menunjukkan tren penurunan yang moderat. Binance Coin (BNB) dan Solana (SOL) masing-masing terkoreksi harian sebesar -0,27% ke level US$616,40 dan -0,50% ke level US$82,29.

Koreksi yang lebih dalam secara mingguan terlihat pada Cardano (ADA) yang mencatatkan penurunan hingga -9,52% dan kini diperdagangkan di level US$0,2501.

Di sisi lain, TRON (TRX) dan UNUS SED LEO (LEO) menjadi anomali dengan pergerakan yang lebih stabil. TRX mencatatkan pertumbuhan mingguan sebesar +2,67% dan LEO naik +0,97% dalam 24 jam terakhir.

Variasi kinerja ini mengonfirmasi bahwa tanpa adanya likuiditas baru yang masuk ke pasar, rotasi modal di kalangan aset kripto menjadi sangat terbatas.

Katalis Geopolitik dan Antisipasi Pasar

Ketegangan geopolitik antara Iran dan AS memang sempat memberikan narasi bagi Bitcoin sebagai alternatif safe haven darurat, yang mendorong arus modal masuk secara signifikan dari wilayah regional terdampak pada pekan sebelumnya. Hal ini sesuai dengan proyeksi bahwa ketidakpastian memicu aksi pembelian instan ke instrumen tersebut.

Namun, efek dari sentimen geopolitik nampaknya hanya bersifat temporal. Seiring dengan berjalannya waktu, pasar secara efisien telah memperhitungkan risiko tersebut ke dalam valuasi harga saat ini.

Oleh karena itu, ketegangan lanjutan di Timur Tengah kemungkinan tidak akan lagi memberikan dorongan harga sekuat sebelumnya, kecuali terjadi eskalasi fundamental yang secara langsung melumpuhkan infrastruktur perbankan global.

Outlook Pasar

Dengan tercapainya target kenaikan jangka pendek di level US$72.000 pekan lalu, strategi investasi yang objektif kini harus kembali difokuskan pada proyeksi makroekonomi jangka panjang.

Kenaikan yang terjadi murni merupakan technical rebound, dan tidak mengubah struktur siklus empat tahunan yang saat ini masih berada dalam fase penurunan seperti yang sudah disebutkan beberapa research sebelumnya.

Mengingat faktor makro seperti kebijakan likuiditas Amerika Serikat dan lambatnya pemulihan ekonomi global masih menjadi beban, tren konsolidasi menuju pelemahan diproyeksikan akan kembali berlanjut ditopang kembali dengan proyeksi memburuknya inflasi di AS dan dunia.

Target utama untuk akumulasi investasi strategis jangka panjang tetap tidak berubah, yakni berada pada rentang harga US$40.000 hingga US$45.000. Level tersebut diperkirakan akan menjadi titik cycle bottom yang optimal pada Kuartal III atau Kuartal IV 2026.

Strategi wait and see sangat disarankan untuk menjaga nilai modal hingga momentum tersebut tiba. Walaupun timing the market tidak disarankan sedikit demi sedikit memiliki eksposur adalah hal yang bijak namun capital deployment pada area tersebut bisa menjadi weighting yang terbaik pada cycle kali ini.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research