Tamu undangan berada di dekat layar elektronik pergerakan saham saat acara penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2025 di Main Hall BEI, Jakarta, Selasa (30/12/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Tahun 2025 ditutup menghijau/menguat 2,68 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.646,94. Perdagangan saham akan kembali dibuka pada Jumat, 2 Januari 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan penambahan 50 saham baru dan dua juta investor pasar modal sepanjang 2026. Pada perdagangan perdana Jumat (2/1/2026), IHSG dibuka menguat ke level 8.676,74.
Direktur Utama BEI Iman Rachman mengatakan target tersebut menjadi bagian dari arah pengembangan pasar modal dalam Master Plan BEI 2026–2030. “Dari sisi pencatatan kami menargetkan 555 pencatatan efek di tahun 2026, di antaranya 50 saham baru,” ujar Iman saat pembukaan perdagangan perdana Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Selain peningkatan jumlah emiten, BEI juga menyusun asumsi pertumbuhan berbasis kondisi makroekonomi nasional dan global. Salah satunya, BEI mengasumsikan nilai RNTH pada tahun 2026 sebesar Rp15 triliun.
Iman menegaskan, penguatan pasar modal tidak hanya bertumpu pada pencatatan efek, tetapi juga pada perluasan basis investor. Karena itu, BEI terus mengoptimalkan berbagai kanal distribusi informasi untuk menjangkau masyarakat luas.
“BEI juga terus memanfaatkan berbagai kanal distribusi informasi untuk mencapai target pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia sebanyak dua juta investor baru di tahun 2026,” katanya.
Menurut Iman, peningkatan jumlah investor diharapkan memperkuat likuiditas dan pendalaman pasar modal secara berkelanjutan. Dengan dukungan pencatatan emiten baru dan bertambahnya investor, BEI menilai struktur pasar modal Indonesia akan semakin kokoh menghadapi dinamika global.

4 hours ago
2













































