Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
20 March 2026 10:40
Jakarta, CNBC Indonesia-Harga batu bara global melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Melansir Refinitiv, acuan Newcastle ditutup di US$145,2 per ton pada Kamis (19/3/2026), dari posisi US$128,7 di awal bulan.
Kenaikan terjadi dalam waktu singkat. Pada 10 Maret harga masih di US$131,1. Dua hari kemudian naik ke US$138,75. Sempat turun tipis ke kisaran US$135, lalu kembali menguat hingga US$139,35 pada 18 Maret. Penutupan di US$145,2 menjadi titik tertinggi sejak November 2024.
Pergerakan ini mengikuti tekanan dari pasar energi global. Konflik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi utama. Ancaman penutupan Selat Hormuz mendorong harga minyak kembali ke atas US$100 per barel. Pada saat yang sama, produksi LNG Qatar berhenti. Sekitar 20% pasokan LNG global hilang dari pasar.
Gangguan tersebut langsung mengubah pola konsumsi energi. Pembangkit listrik kehilangan akses terhadap gas dalam jumlah besar. Pasar spot menjadi mahal dan sulit dijangkau. Utilitas beralih ke bahan bakar yang tersedia. Batu bara menjadi pilihan karena bisa langsung digunakan tanpa penyesuaian besar.
Dampaknya terasa di Asia. Jepang, Taiwan, dan Singapura yang bergantung pada LNG mulai berebut pasokan di pasar spot. Melansir The New York Times, harga melonjak karena persaingan antarnegara. Negara berkembang seperti Pakistan dan Bangladesh mulai tersingkir dari pasar dan menghadapi risiko pemadaman listrik.
Kebijakan energi ikut berubah dalam hitungan minggu. Thailand menjalankan pembangkit batu bara pada kapasitas penuh dan menggelontorkan subsidi. Taiwan serta Korea Selatan mengaktifkan kembali pembangkit lama untuk menjaga pasokan listrik. Kebutuhan energi jangka pendek mengambil prioritas.
Di saat permintaan meningkat, pasokan global tidak sepenuhnya longgar.
Indonesia sebagai eksportir terbesar dunia sedang menghadapi keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Sejumlah perusahaan tambang belum memperoleh kuota produksi penuh hingga pertengahan Maret.
Kondisi ini menahan laju produksi sejak awal tahun. Perusahaan belum bisa beroperasi optimal karena izin belum sepenuhnya keluar. Dalam jangka pendek, situasi ini mengurangi volume yang masuk ke pasar ekspor.
Pemerintah Indonesia juga memberi sinyal pengetatan distribusi. Batu bara diprioritaskan untuk kebutuhan domestik, terutama untuk mendukung ekspansi industri dalam negeri. Dengan porsi Indonesia yang mencapai sekitar 50% perdagangan global, setiap penyesuaian kebijakan langsung terasa di pasar internasional.
Ada faktor tambahan yang memperbesar risiko pasokan. Skema izin yang kini berlaku tahunan membuat proses administrasi lebih sering berulang. Sementara itu, kebijakan transisi sementara yang memperbolehkan produksi terbatas sebelum izin penuh keluar memiliki batas waktu. Jika persetujuan tidak segera rampung, produksi bisa kembali tertahan.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan rampungnya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan mineral dan batu bara (minerba) tahun ini pada akhir Maret 2026.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno memastikan bahwa pihaknya akan mempercepat dan mengejar tenggat waktu tersebut.
"Tetap target akhir Maret. Dua-duanya antara perusahaan sama pemerintah aktif semua loh ya," ujar Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/3/2026).
Dia mencatat, hingga pertengahan bulan ini, pemerintah telah memberikan persetujuan RKAB batu bara tahun ini hampir 400 juta ton batu bara dan 100 juta ton lebih untuk nikel.
Kombinasi antara keterlambatan RKAB dan prioritas domestik membuat ruang pasokan global semakin sempit. Saat permintaan naik akibat krisis energi, pasar kehilangan fleksibilitas dari sisi suplai.
Permintaan global sendiri sudah berada dalam tren naik sebelum krisis. Data International Energy Agency (IEA) mencatat konsumsi meningkat dalam dua tahun terakhir, dengan India dan Asia Tenggara sebagai pendorong. Kondisi saat ini mempercepat kenaikan tersebut karena keterbatasan alternatif energi.
Konsumsi bertambah cepat setelah gangguan gas. Pasokan bergerak lebih ketat dari sisi eksportir utama. Ruang penurunan harga menjadi terbatas selama kondisi ini bertahan.
Untuk jangka pendek, arah pasar masih dipengaruhi situasi Timur Tengah. Selama aliran minyak dan gas belum pulih, pembangkit listrik akan tetap bergantung pada batu bara. Harga berada di level tinggi dengan volatilitas yang tetap terbuka.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google















































