Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konon, dalam cerita-cerita lama Timur Tengah, seorang pedagang karpet dapat menjual barang yang sama kepada dua pembeli berbeda dengan dua kisah yang berbeda pula. Sudah tentu dengan harga yang berbeda.
Kepada pembeli pertama ia menjelaskan betapa rumit tenunan benangnya. Kepada pembeli kedua ia bercerita tentang panjang perjalanan unta yang membawa karpet itu dari gurun. Karpetnya sama. Yang berubah hanyalah cerita yang mengiringinya.
Saya teringat kisah itu ketika membaca dua versi Memorandum of Understanding (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran. Versi pertama beredar dari Teheran melalui media pemerintah Iran dan dipublikasikan ABC. Versi kedua dirilis Washington dan dipublikasikan CNN sebagai naskah resmi.
Menariknya, kedua pihak berbicara tentang dokumen yang sama, tetapi masing-masing menghasilkan kesan yang berbeda.
Iran seolah ingin menunjukkan bahwa Amerika sebagai negara adidaya terbesar di dunia akhirnya datang membawa konsesi. Sementara Amerika seolah ingin menunjukkan bahwa seluruh konsesi itu tetap berada di bawah kendali prosedur yang mereka pegang.
Perbedaan itu tidak terlihat mencolok pada pandangan pertama. Empat belas poin MoU yang mereka paparkan ke media hampir sama. Gencatan senjata tetap ada. Selat Hormuz tetap dibuka. Sanksi tetap dibahas. Program nuklir tetap menjadi agenda utama.
Namun, seperti kontrak jual beli rumah, sering kali nasib sebuah bangunan tidak ditentukan oleh judul perjanjiannya, melainkan oleh kalimat-kalimat kecil yang ditulis dengan huruf lebih kecil di bagian bawah halaman.
Karena itu, pertanyaan yang menarik bukan lagi siapa menang perang -- koran The New York Times memvonis AS yang kalah. Pertanyaan yang lebih menarik: siapa yang berhasil memasukkan kepentingannya ke dalam struktur kalimat MoU tersebut.
Poin tentang penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing negara merupakan contoh pertama. Sebelum perang dimulai, Trump berbicara seolah perubahan rezim di Teheran merupakan tujuan yang masuk akal. Retorikanya keras. Bahasanya penuh optimisme.
Namun dalam dokumen yang kini beredar, kedua negara justru berjanji saling menghormati kedaulatan dan tidak mencampuri urusan dalam negeri masing-masing. Dalam bahasa politik, itu bukan sekadar perubahan kalimat. Itu perubahan tujuan.
Bagian mengenai Selat Hormuz memperlihatkan permainan bahasa yang lebih halus lagi. Versi Iran menonjolkan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran dilakukan melalui pengaturan yang melibatkan Iran. Versi Washington menambahkan bahwa kapal-kapal dagang akan melintas tanpa pungutan selama enam puluh hari.
Dua kalimat itu mungkin tampak saling melengkapi. Namun penekanannya berbeda. Iran ingin publik melihat dirinya sebagai pengelola gerbang energi dunia. Amerika ingin publik melihat bahwa kebebasan pelayaran berhasil dipulihkan.
Perbedaan yang lebih penting muncul pada isu nuklir. Dalam versi yang beredar sebelumnya dari pihak Iran, perhatian publik tertuju pada pernyataan bahwa Iran tidak akan membuat senjata nuklir. Kalimat itu terdengar akrab karena selama bertahun-tahun memang itulah posisi resmi Teheran.
Namun naskah yang dirilis Washington memasukkan unsur yang jauh lebih spesifik, yakni mekanisme penanganan uranium yang telah diperkaya serta pengawasan oleh Badan Energi Atom Internasional atau IAEA.
Kalimat tentang pengenceran uranium itu mungkin terdengar teknis dan membosankan bagi pembaca awam. Toh itu sudah bertahun-tahun dibahas kedua negara. Namun justru di sanalah jantung politik dokumen ini berdenyut.
Anda sudah tahu, perang pada abad ke-20 sering dipahami sebagai perebutan wilayah, pelabuhan, atau ladang minyak. Tapi, perang pada abad ke-21 tampaknya lebih sering memperlihatkan perebutan prosedur.
Yang diperebutkan bukan lagi bukit dan lembah, melainkan hak melakukan inspeksi, kewenangan melakukan verifikasi, kemampuan mengatur mekanisme pengawasan, serta kendali atas jadwal pelaksanaan kesepakatan.
Dalam dunia diplomasi modern, hal-hal yang tampak administratif itu sering jauh lebih menentukan daripada pidato kemenangan yang menggelegar di televisi.
Dari sudut inilah dapat dipahami mengapa Washington tampak berusaha memindahkan medan pertarungan dari lapangan perang ke ruang prosedur yang penuh syarat, tenggat waktu, dan mekanisme verifikasi.
Hal yang sama terlihat pada hampir seluruh pasal mengenai sanksi dan aset Iran. Sekilas, Iran memperoleh banyak hal: pembukaan akses keuangan, pelonggaran ekspor minyak, pelepasan aset yang dibekukan, hingga rencana rekonstruksi bernilai ratusan miliar dolar.
Walakin, hampir setiap janji itu digandengkan dengan frasa yang sama: berdasarkan kesepakatan akhir, melalui mekanisme yang disetujui bersama, atau sesuai jadwal yang akan dirundingkan. Dengan kata lain, Iran memperoleh prospek keuntungan, sedangkan Amerika berusaha mempertahankan tuas kendali.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

1 hour ago
1















































