REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bergerak cepat merespons peningkatan arus kendaraan di Pelabuhan Ketapang pasca berakhirnya kebijakan pembatasan operasional angkutan barang sumbu tiga ke atas. Corporate Secretary ASDP, Windy Andale mengatakan lonjakan kendaraan, terutama truk logistik, ditangani melalui langkah taktis dan kolaboratif lintas sektor.
Ia menegaskan perusahaan mengedepankan penanganan terintegrasi untuk menjaga kelancaran lintas Ketapang–Gilimanuk. Windy memahami ketidaknyamanan yang dirasakan pengguna jasa.
"Saat ini, ASDP bersama seluruh stakeholder terus memperkuat penanganan agar antrean dapat segera terurai dan layanan kembali normal," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (3/4/2026).
Dari dalam pelabuhan, ucap Windy, percepatan dilakukan melalui pengaturan pola muatan yang lebih terstruktur. Dermaga 1, 2, dan 3 difokuskan untuk kendaraan penumpang—roda dua, roda empat, dan bus. Sementara Dermaga 4 dan LCM dimaksimalkan untuk kendaraan logistik. Skema ini efektif mengurangi mixing conflict, sehingga proses bongkar muat menjadi lebih homogen, cepat, dan efisien.
Windy menyampaikan pengendalian volume kendaraan juga diperkuat melalui optimalisasi buffer zone. Area Pusri difungsikan khusus untuk menampung hingga 150 truk sumbu tiga, sementara buffer zone Bulusan mampu menampung sekitar 600 unit truk campuran.
"Langkah ini menjaga agar kepadatan tidak langsung terakumulasi di dalam kawasan pelabuhan," ucap Windy.
Windy mengatakan antrean kendaraan dari arah utara terpantau mencapai Parasputih atau sekitar 7 km dari pintu masuk pelabuhan, didominasi kendaraan logistik hingga Kamis (2/4/2026) petang. Meski demikian, arus kendaraan dari tollgate menuju dermaga tetap bergerak dengan waktu tempuh berkisar 20 hingga 35 menit.
Berdasarkan data Posko Ketapang selama 24 jam pada H+10), tercatat 47.961 penumpang menyeberang dari Jawa ke Bali, meningkat 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif, sejak H-10 hingga H+10, total pergerakan mencapai 761.391 penumpang dan 201.676 unit kendaraan, mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat dan distribusi logistik di lintas Jawa–Bali.
"Kelancaran penguraian antrean juga sangat dipengaruhi oleh disiplin pengguna jalan. Pengguna jasa, khususnya dari arah utara, diimbau untuk tidak melawan arus yang berpotensi memperparah kepadatan dan menghambat penanganan di lapangan," lanjut Windy.
Dengan penguatan operasional dan sinergi lintas sektor, sambung Windy, ASDP memastikan layanan penyeberangan tetap berjalan aman, tertib, dan terkendali.
"Kami terus mengintensifkan kolaborasi agar kondisi segera normal. Dukungan dan kepatuhan pengguna jasa menjadi kunci percepatan penguraian antrean,” kata Windy.
General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko, menjelaskan optimalisasi operasional juga dilakukan melalui penguatan ritme layanan kapal dan kesiapan fasilitas pendukung. Pihaknya memastikan seluruh dermaga dan armada beroperasi maksimal dengan pola layanan yang lebih terarah.
"Fokus kami adalah mempercepat turn around time kapal agar antrean kendaraan dapat segera berkurang," ujar Arief.
Di sisi eksternal, pengaturan lalu lintas diperkuat melalui koordinasi intensif bersama aparat berwenang. Dukungan Mabes TNI dengan pengerahan 365 personel lintas matra menjadi elemen penting dalam menjaga kelancaran distribusi kendaraan menuju pelabuhan.
"Kami mengapresiasi dukungan TNI yang turut mempercepat penguraian antrean dan menjaga ketertiban arus kendaraan,” tutur dia menambahkan.

3 hours ago
1









































