
Oleh : M.T. Natalis Situmorang (Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Periode 2006-2009, 2009-2012)
REPUBLIKA.CO.ID, 18 Februari 2026 menjadi momen bersejarah bagi kehidupan spiritual di Indonesia. Pada hari tersebut, umat Katolik memasuki masa Prapaskah yang ditandai dengan penerimaan Abu, sementara umat Islam memulai ibadah puasa di bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah. Pertemuan dua momentum besar ini bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan sebuah “tanda zaman” yang mendesak kita untuk merenungkan kembali esensi debu (kefanaan) dan lapar (pengendalian diri) di tengah bumi yang sedang sakit parah.
Tema Masa Prapaskah Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) tahun 2026 adalah “Pertobatan Ekologis”, yang menjadi sangat relevan sebagai landasan teologis dan sosiologis untuk memaknai momen ini. Ketika abu dioleskan di dahi dengan seruan, “Engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu”, kita tidak hanya diingatkan akan kematian fisik, tetapi juga akan asal-usul materi kita yang menyatu dengan tanah. Pertanyaannya, jika kita adalah bagian dari tanah, mengapa kita begitu tega meracuni “rahim” tempat kita berasal dan akan kembali?
Paradoks “menguasai”bumi
Dalam teologi penciptaan, sering kali terjadi kesalahpahaman fatal mengenai mandat manusia. Kitab Kejadian 1:28 yang menyerukan manusia untuk “menaklukkan” dan “menguasai” bumi sering ditafsirkan sebagai lisensi untuk eksploitasi tanpa batas. Namun, dokumen panduan KAJ meluruskan tafsir ini dengan tegas, yakni istilah tersebut tidak bermakna eksploitasi, melainkan panggilan untuk melindungi dan merawat, sebagaimana Allah merawat ciptaan-Nya.
Kerusakan lingkungan yang kita saksikan hari ini, mulai dari krisis iklim, gunungan sampah, hingga polusi udara, adalah cermin kegagalan manusia menjalankan mandat ilahi tersebut.
Kita telah gagal menjadi imago Dei (citra Allah) yang memelihara dan berubah menjadi predator yang memangsa masa depan anak cucu kita. Seperti peribahasa penduduk asli Amerika yang dikutip dalam panduan ini, “We do not inherit the earth from our ancestors, we borrow it from our children.” Kita sedang menjajah masa depan generasi penerus hanya untuk memuaskan kerakusan masa kini.
Puasa: dari ritual menuju ekologis
Di sinilah relevansi puasa menemukan urgensinya. Baik dalam tradisi Katolik maupun Islam, puasa adalah latihan menahan diri (restraint). Namun, di era krisis iklim, menahan diri dari makan dan minum saja tidak lagi cukup. Kita memerlukan apa yang disebut Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ sebagai “Pertobatan Ekologis”.
Puasa ekologis menuntut kita berpuasa dari gaya hidup konsumtif yang menghasilkan residu abadi bagi bumi. Fakta menunjukkan, satu botol plastik membutuhkan waktu 450 tahun untuk terurai. Bayangkan, botol air mineral yang kita minum dalam lima menit demi membatalkan puasa akan tetap menjadi sampah plastik hingga lima abad ke depan, mewariskan racun bagi generasi yang bahkan belum lahir.
Tantangan terbesar sering terjadi justru pada bulan puasa dan masa raya keagamaan, ketika produksi sampah makanan dan kemasan plastik meningkat drastis. Maka, pertobatan ekologis menuntut perubahan radikal. Puasa harus dimaknai sebagai “puasa sampah plastik”, “puasa boros listrik”, dan “puasa membuang makanan”. Membawa tas belanja sendiri, misalnya, bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan tindakan askese (matiraga) modern yang mampu mengurangi ratusan sampah plastik setiap tahunnya.

3 days ago
6













































