Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
10 March 2026 14:35
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar komoditas dunia memiliki satu pola yang terus berulang. Setiap krisis geopolitik besar langsung tercermin pada harga energi dan logam mulia. Pergerakan harga sering muncul dalam hitungan hari setelah konflik dimulai, lalu berubah lagi ketika pasar menilai apakah gangguan pasokan benar-benar terjadi.
Data Refinitiv yang dihimpun dari beberapa periode krisis menunjukkan dinamika tersebut dengan jelas, mulai dari perang Rusia-Ukraina pada 2022 hingga eskalasi konflik Timur Tengah pada awal 2026 ini.
Perang Iran versus Israel dan Amerika Serikat (AS) meletus pada 28 Februari 2026. Setelah 10 hari perang, tensi mulai melandai, harga komoditas emas, minyak hingga batu bara melonjak.
CNBC Indonesia membandingkan pergerakan harga komoditas emas, batu bara dan minyak setelah 10 hari perdagangan perang meletus.
Gelombang 1
Periode pertama terjadi setelah pecahnya Russian invasion of Ukraine pada akhir Februari 2022. Rusia merupakan salah satu eksportir energi terbesar dunia. Risiko sanksi terhadap ekspor minyak Rusia langsung memicu lonjakan harga energi global.
Dalam data 24 Februari hingga 9 Maret 2022, emas naik sekitar 3,39% dari US$1.926 menjadi US$1.991 per troy ons. Harga minyak sempat melonjak tajam hingga mendekati US$130 per barel pada awal Maret sebelum terkoreksi kembali ke kisaran US$111.
Batu bara termal Newcastle juga bergerak di level sangat tinggi pada periode tersebut, berada di kisaran US$426 per ton pada 9 Maret yang merupakan rekor tertinggi sepanjang masa kedua.
Kenaikan emas pada periode itu berhubungan dengan arus dana ke aset lindung nilai. Investor global mengalihkan portofolio saat risiko perang meningkat dan pasar saham bergejolak.
Pada saat yang sama pasar energi menghadapi ketidakpastian pasokan. Rusia memegang peran penting dalam ekspor minyak dan gas ke Eropa. Kekhawatiran mengenai gangguan ekspor menciptakan premi risiko pada harga energi.
Gelombang 2
Gelombang berikutnya muncul pada Oktober 2023 setelah pecahnya konflik di Gaza yang kemudian dikenal sebagai Israel-Hamas War.
Data 12 hingga 20 Oktober 2023 memperlihatkan emas naik sekitar 2,55%, dari US$1.868 menjadi hampir US$1.981 per troy ons. Harga minyak bergerak lebih moderat. Brent naik sekitar 1,4% menjadi US$92 per barel, sementara WTI naik sekitar 1,2% ke kisaran US$88. Batu bara pada periode yang sama justru melemah sekitar 5,1% dari US$150 menjadi US$143 per ton.
Pergerakan ini berkaitan dengan struktur pasokan energi global. Konflik Gaza terjadi di kawasan yang berdekatan dengan jalur perdagangan minyak dunia, namun tidak langsung mengganggu produksi energi utama. Karena itu reaksi pasar energi lebih terbatas dibanding krisis Ukraina. Emas tetap menarik minat investor yang mencari perlindungan dari volatilitas geopolitik.
Gelombang 3
Periode ketiga terjadi pada Juni 2025 ketika ketegangan antara Iran dan Israel meningkat hingga saling mengirim rudal.
Data 13 hingga 26 Juni 2025 memperlihatkan perubahan arah pasar komoditas. Emas turun sekitar 1,19% ke kisaran US$3.327 per troy ons.
Batu bara turun 5,43% dari US$112 menjadi sekitar US$106 per ton. Minyak mengalami koreksi lebih dalam dengan Brent turun sekitar 12% dari US$77 menjadi US$67 per barel dan WTI turun hampir 13% ke sekitar US$65.
Koreksi tersebut muncul setelah lonjakan awal yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Pasar energi menilai jalur pasokan utama di Teluk Persia masih berjalan normal. Penilaian itu mengurangi premi risiko pada harga minyak sehingga harga kembali turun dalam waktu relatif singkat.
Gelombang 4- Minyak Membara
Lonjakan paling tajam dalam muncul pada awal 2026 ini. Dalam periode 27 Februari hingga 10 Maret 2026, harga energi melonjak cepat seiring eskalasi konflik Iran dan Israel yang meningkat di kawasan Teluk.
Brent naik dari US$72 menjadi US$94 per barel, setara kenaikan sekitar 30%. WTI meningkat sekitar 35% ke level US$90 per barel. Batu bara juga melonjak sekitar 23% dari US$116 menjadi hampir US$144 per ton.
Lonjakan energi tersebut terjadi karena pasar fokus pada risiko gangguan distribusi minyak di kawasan Teluk Persia, wilayah yang mengalirkan sebagian besar ekspor energi dunia. Setiap ancaman terhadap jalur pelayaran energi langsung tercermin pada harga minyak. Pasar komoditas merespons cepat karena sektor energi memiliki sensitivitas tinggi terhadap gangguan logistik.
Jika seluruh periode dibandingkan, emas sering bergerak lebih dulu ketika konflik mulai memicu ketidakpastian global. Energi merespons lebih kuat ketika risiko pasokan meningkat atau jalur perdagangan terganggu. Batu bara mengikuti dinamika energi global karena digunakan secara luas dalam pembangkit listrik di Asia.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google














































