Wabah Ebola Baru Berpotensi Jadi Krisis Terburuk Dekade Ini

1 hour ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

21 May 2026 12:45

Jakarta, CNBC Indonesia- Di timur Republik Demokratik Kongo, suara sirene ambulans kembali terdengar setelah bertahun-tahun Ebola sempat mereda.

Wabah yang mulai terdeteksi pada April kini bergerak cepat melintasi wilayah tambang emas, kota perbatasan, hingga jalur pengungsian akibat perang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 17 Mei menetapkan situasi ini sebagai "public health emergency of international concern", status darurat kesehatan tertinggi yang jarang dikeluarkan.

Kondisinya membuat banyak epidemiolog mengingat kembali mimpi buruk Afrika Barat 2014-2016, ketika Ebola menewaskan lebih dari 11.000 orang.

Melansir The Economist, kali ini, ancamannya muncul dari kombinasi yang rumit yakni virus yang lebih sulit dideteksi, wilayah perang yang nyaris tak memiliki kontrol negara, serta pemotongan bantuan kesehatan global di tengah dunia yang sedang mengetatkan anggaran.

Di Mongbwalu, kota tambang di Provinsi Ituri, warga mulai melihat kematian misterius sejak April.

Sylvie Kabuo-Kinyoma, pedagang sayur di daerah tersebut, awalnya mengira kematian itu berkaitan dengan ilmu hitam. Dugaan berubah setelah seorang perawat menemukan pasien dengan demam tinggi dan pendarahan dari hidung-gejala klasik Ebola. Ketakutan menyebar cepat di pasar, gereja, dan jalur tambang rakyat. Banyak keluarga mulai menghindari kontak fisik.

Peta PersebaranFoto: The Economist

Hingga 19 Mei, Kongo melaporkan lebih dari 500 kasus suspek dan 130 kematian. Angka sebenarnya diperkirakan lebih tinggi. Model analisis dari MRC Centre for Global Infectious Disease Analysis di Imperial College London memperkirakan virus sudah menyebar beberapa pekan sebelum terdeteksi resmi pada 24 April. Kasus kini telah ditemukan di Kampala, Uganda.

Seorang dokter asal Amerika Serikat yang bekerja di wilayah wabah juga dinyatakan terinfeksi dan dievakuasi ke Jerman.

Penyebaran ke Goma ikut meningkatkan kekhawatiran internasional. Kota ini merupakan pusat ekonomi dan logistik di kawasan timur Kongo, sekaligus jalur perdagangan menuju Rwanda, Burundi, dan Sudan Selatan. Rwanda dilaporkan mulai menutup sebagian perlintasan perbatasan dengan Kongo untuk membatasi mobilitas warga.

Secara teori, dunia sebenarnya jauh lebih siap menghadapi Ebola dibanding satu dekade lalu. Setelah tragedi Afrika Barat, sistem respons kesehatan global mengalami banyak perubahan. Vaksin untuk strain Zaire dikembangkan, tes diagnostik dipercepat, dan tenaga kesehatan lokal dilatih membangun kepercayaan masyarakat agar pasien mau diisolasi lebih cepat.

Masalahnya, wabah kali ini bukan disebabkan strain Zaire. Virus yang menyebar merupakan strain Bundibugyo, jenis yang lebih jarang ditemukan dan belum memiliki vaksin resmi maupun alat tes cepat yang tersedia luas.

Sampel dari Ituri harus diterbangkan sekitar 2.000 kilometer menuju Kinshasa untuk diuji laboratorium. Hasilnya bisa memakan waktu berhari-hari. Dalam wabah yang bergerak cepat, jeda semacam itu membuat rantai penularan sulit diputus.

Bob Kitchen dari International Rescue Committee menggambarkan situasi tersebut seperti kembali ke titik awal epidemi Ebola sebelum vaksin ditemukan. Petugas medis kini bekerja dengan keterbatasan alat, sementara masyarakat terus bergerak antarwilayah tambang dan kamp pengungsian.

Faktor perang membuat situasi semakin rapuh. Lebih dari 100 kelompok bersenjata aktif di Ituri dan Kivu. Pada wabah besar 2018, sejumlah klinik milik Médecins Sans Frontières (MSF) pernah dibakar kelompok milisi. Ancaman keamanan membuat tenaga medis kesulitan menjangkau desa terpencil. Banyak daerah hanya bisa diakses melalui jalan tanah rusak yang berubah lumpur saat hujan.

Di Kivu Utara, kelompok bersenjata M23 yang didukung Rwanda kini menguasai sebagian wilayah administratif. Banyak pekerja kemanusiaan hengkang dalam dua tahun terakhir.

Bandara Goma juga belum dibuka kembali, membuat distribusi bantuan harus memutar melalui Rwanda dan Uganda. Organisasi kemanusiaan mengeluhkan suplai medis yang tertahan di pos pemeriksaan.

Kelemahan pemerintah daerah memperbesar masalah. Di Bunia, ibu kota Ituri, dosen universitas Machozi Mwanamolo mengkritik otoritas lokal yang dinilai lambat mengambil tindakan pembatasan mobilitas.

Warga Mongbwalu masih bebas bepergian meski wilayahnya menjadi pusat penyebaran awal. Di tengah minimnya informasi resmi, berbagai praktik tradisional mulai bermunculan. Sebagian warga membuat ramuan jahe, lemon, dan bawang putih untuk "meningkatkan antibodi". Banyak akademisi bahkan berhenti berjabat tangan.

Kesulitan terbesar berikutnya datang dari sisi pendanaan. Sebelum 2025, program pengawasan wabah di Kongo banyak bergantung pada bantuan Amerika Serikat. Dana itu dipakai untuk membiayai petugas kesehatan komunitas, edukasi publik, alat pelindung diri, hingga sistem pelacakan kontak pasien. Dalam setahun terakhir, sebagian besar program dipangkas.

International Rescue Committee misalnya, mengurangi area operasinya di Ituri dari lima wilayah menjadi dua setelah Maret 2025. Pemerintah Amerika Serikat pada 18 Mei memang menjanjikan bantuan US$13 juta untuk respons Ebola terbaru. Nilainya jauh di bawah pengeluaran saat menghadapi wabah besar 2014-2016. Inggris dan Jerman juga memangkas anggaran bantuan luar negeri mereka.

Kepala Africa CDC, Jean Kaseya, menilai pendekatan pembatasan perjalanan saja tidak cukup menghentikan wabah. Menurutnya, keamanan kesehatan global bergantung pada investasi cepat, kerja sama lintas negara, dan kapasitas respons lokal. Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat membatasi masuknya warga non-Amerika yang baru bepergian dari Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan.

Pelajaran dari epidemi sebelumnya memperlihatkan bahwa Ebola sulit dihentikan bahkan ketika dunia memiliki dana besar dan vaksin.

Wabah 2018 di Kongo membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk dikendalikan dengan sekitar 300 ribu dosis vaksin serta operasi kemanusiaan besar-besaran. Kali ini, vaksin belum tersedia, bantuan lebih tipis, dan kepercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan juga belum kuat.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research