Trump dan Kontradiktif Iran-Greenland

5 hours ago 2

Oleh : Sabpri Piliang, Pengamat Timur Tengah

REPUBLIKA.CO.ID, Setiap peristiwa, selalu memunculkan diksi "mengapa"! Di setiap spektrum, baik logis atau tidak, narasi mengapa tak pernah usang. Homo sapien (manusia), tak pernah berhenti bertanya, mengapa?

Presiden AS, Donald Trump, merupakan satu spektrum yang memiliki rentang (sebaran), tidak hanya di satu titik. Eksistensinya, inklusif melahirkan tanda tanya publik, mengapa?

Ancaman Trump kepada Iran, untuk tak menyerang demonstran. Lalu, ancaman terhadap Hamas agar melucuti senjata, ancaman pada Presiden Kolombia (Gustavo Petro), dan aneksasi Greenland. Semuanya, munculkan pertanyaan. Mengapa?

'Unipolar', di tangan Trump tidak lagi melihat kedaulatan sebagai 'harga mati' (negative). Secara implisit bahkan eksplisit, kekuasaan Trump telah mencakup seluruh 'kontinum'. Dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya.

Siapa yang berani dengan Trump saat ini?

Ketika Trump mengatakan, siapa yang masih berbisnis dengan Iran, maka tarif barang yang masuk ke AS. Akan dikenakan bea tambahan 25 persen. Partikel demokrasi, mati! Tak salah bila kemudian Scott Lucas, seorang ahli politik Timur Tengah (Timteng) dari University College Dublin (Republik Irlandia) mengatakan, Trump penuh dengan kontradiksi. 

Time Of Israel, media mainstream Israel, menyitir TV World (media Polandia, 14 Januari 2025) mengutip Scoot, Presiden AS tidak bertindak logis. Penuh kontradiksi, menjadi pengganggu, sekaligus presiden perdamaian.

Semasa Trump, fiksi ilmiah dan cerita fantasi, berubah nyata. Menangkap Presiden Venezuela, layaknya cerita fiksi Ian Flemming dalam kisah James Bond, Trump berpegang pada 'posisional'nya yang lateral (tak lazim).

Iran yang percaya diri dan siap menghadap berbagai probabilitas, tidak takut dengan ancaman Trump. Apalagi dalam 25 tahun terakhir, Rezim Mullah telah terbiasa menghadapi berbagai intrik dan demo.

Kampus-kampus mulai bergerak memprotes turun ke jalan (2009). Ketika itu, gelombang demo terbesar melanda Iran. Mahasiswa menganggap Pemilu telah dimanipulasi.

Tak berhenti. Embargo ekonomi AS dan sekutu Eropanya terhadap Iran (sejak 1979), membawa Iran pada kondisi ekonomi yang pahit. Meski begitu, daya tahan Iran tetap kuat, karena dukungan konsumsi domestik.

Berlanjut, perekonomian yang memburuk terkait dengan harga makanan dan BBM, kembali mengguncang protes (2019). Bahkan, pada 2022, rezim Mullah, didemo berbulan-bulan, dengan sudut pandang hak dan kebebasan perempuan.

Semua pergerakan, baik melibatkan asing atau tidak, gagal menumbangkan rezim Mullah. Skeptisisme serangan AS, untuk melindungi demontran Iran yang beresonansi kencang, anti-klimaks. Mengapa?

Fundamental Revolusi 1979 yang kuat, menjadikan AS sangat berhati-hati menangani Iran. Terlebih dalam struktur elite Iran, sejak lama membangun narasi siapa pun yang ingin menjatuhkan Mullah, mereka adalah agen AS-Israel.

Apa yang terjadi di Venezuela, probabilitas pengkhianatan elite lingkar dalam terhadap Presiden Nicolas Maduro, tak akan terjadi di Iran. Mudahnya pasukan AS menangkap Maduro, jelas ada yang tak beres!

Alasan lain, mengapa AS sangat berhitung, meskipun sekutu AS di Timteng (Arab Saudi, UEA, Qatar, Bahrain, Oman) ingin rezim Mullah runtuh. The day after? Hari setelahnya.

Diksi mengapa, tentu menjadi question mark (pertanyaan besar). Keruntuhan para Mullah, akan menimbulkan instabilitas di kawasan Teluk Persia. Katakanlah Mullah jatuh, Iran pasti bergolak panjang. Dunia guncang.

Iran yang miskin tokoh pemersatu dan kredibel. Sekalipun ada oposisi, seperti Reza Pahlevi, namun legacy-nya, sangat tidak memadai dan tak sebanding dengan Mullah. The day after-nya, sangat berbahaya.

Key point-nya, Selat Hormuz akan terbakar, pasokan 20 persen oil and gas dunia menjadi berantakan. Faktor ikutannya, harga crude oil (minyak mentah) pasti melonjak ke angka fantastis. Qatar, Arab Saudi, UEA, goyah.

Karena itu, terhindarnya konfrontasi fatalistik AS-Iran (Trump melunak), tentu telah melegakan dunia. Ancaman keras AS sebelumnya, menjadikan dinamika global cemas. Beruntung, AS mengubahnya ke cara diplomatik.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research