Tradisi Lomba 17 Agustus: Lebih dari Sekadar Hiburan Rakyat

8 hours ago 5

Image M. Ricky Adi Saputra

Lomba | 2026-08-21 11:02:01

Setiap bulan Agustus, jalan kampung, halaman sekolah, lapangan, hingga kompleks perumahan di berbagai daerah Indonesia berubah menjadi arena perlombaan. Anak-anak berlari menggunakan karung, orang dewasa mengikuti tarik tambang, peserta berebut mencapai puncak pohon pinang, sementara warga lainnya tertawa dan berteriak memberikan dukungan.

Sumber: Pixabay

Tradisi tersebut kembali terasa pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026. Lomba seperti balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, bakiak, dan panjat pinang masih menjadi bagian dari perayaan masyarakat di berbagai daerah. RRI mencatat perlombaan 17 Agustus tidak hanya digelar di permukiman, tetapi juga di sekolah, kampus, perkantoran, dan berbagai instansi.

Menariknya, tidak ada yang istimewa dari peralatan lomba tersebut. Karung, kerupuk, tali, bambu, bakiak kayu, atau batang pinang bukanlah benda mahal. Namun, setiap tahun masyarakat tetap menantikan perlombaan yang sama.

Hal itu menunjukkan bahwa daya tarik lomba 17 Agustus bukan semata-mata terletak pada permainan. Ada ingatan kolektif, kebersamaan, kompetisi, hiburan, dan identitas sosial yang membuat tradisi tersebut bertahan.

Kementerian Pendidikan juga mencatat bahwa perlombaan 17 Agustus telah menjadi bagian dari pesta rakyat yang bertujuan memeriahkan kemerdekaan sekaligus mengingat kembali perjuangan para pahlawan.

Pertanyaannya, mengapa tradisi yang sederhana ini mampu bertahan selama puluhan tahun?

Dari Perayaan Kemerdekaan Menjadi Tradisi Rakyat

Lomba 17 Agustus tidak langsung menjadi tradisi besar tepat setelah Proklamasi 1945. Sumber pemerintah dan berbagai catatan sejarah populer menyebut perlombaan mulai berkembang dan semakin marak pada sekitar dekade 1950-an, ketika masyarakat mulai merayakan kemerdekaan dengan suasana yang lebih meriah.

Pada masa awal kemerdekaan, masyarakat Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan besar akibat perang dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ketika situasi mulai memungkinkan, perayaan kemerdekaan berkembang menjadi ruang kegembiraan bersama.

Dari sinilah perlombaan rakyat mendapatkan tempat.

Namun, penting untuk tidak menganggap bahwa semua lomba tersebut diciptakan khusus untuk memperingati kemerdekaan. Beberapa permainan memiliki sejarah yang lebih tua dan kemudian melekat kuat dengan perayaan 17 Agustus.

Panjat pinang, misalnya, telah dikenal sejak masa kolonial. Sejumlah catatan sejarah menyebut permainan ini pernah menjadi hiburan dalam pesta dan perayaan masyarakat sebelum Indonesia merdeka. Karena itu, anggapan bahwa seluruh lomba 17 Agustus diciptakan setelah Proklamasi tidak sepenuhnya tepat.

Yang terjadi adalah proses pengadopsian dan pemaknaan ulang. Permainan yang sudah dikenal masyarakat kemudian ditempatkan dalam konteks perayaan kemerdekaan.

Panjat pinang akhirnya menjadi salah satu simbol yang paling mudah dikenali ketika berbicara tentang Agustusan. Sebuah batang pinang yang licin, hadiah di bagian atas, dan sekelompok orang yang saling membantu untuk mencapai puncak menjadi tontonan yang hampir selalu mengundang perhatian.

Dengan demikian, tradisi lomba 17 Agustus tidak hanya berkaitan dengan asal-usul sebuah permainan. Ia merupakan hasil dari proses budaya yang berlangsung dalam waktu panjang.

Di Balik Tawa Ada Nilai Gotong Royong

Jika dilihat sekilas, lomba Agustusan hanya berisi persaingan untuk mendapatkan hadiah. Siapa yang paling cepat, paling kuat, atau paling tangkas menjadi pemenang.

Namun, beberapa jenis perlombaan justru sulit dimenangkan tanpa kerja sama.

Panjat pinang adalah contoh paling jelas. Satu orang tidak mungkin mencapai puncak sendirian dengan mudah. Peserta harus membentuk pijakan, membantu rekan lain, mengatur posisi, dan menentukan strategi.

Hal yang sama terlihat pada balap bakiak. Peserta dalam satu kelompok harus menyelaraskan langkah. Jika satu orang bergerak terlalu cepat atau terlalu lambat, seluruh kelompok dapat kehilangan keseimbangan.

Tarik tambang juga memperlihatkan prinsip yang sama. Kemenangan bukan semata-mata ditentukan oleh kekuatan individu, melainkan koordinasi seluruh anggota tim.

Nilai tersebut sejalan dengan kajian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menyebut permainan tradisional mengandung unsur gotong royong, kebersamaan, dan sportivitas.

Penelitian mengenai permainan tradisional juga menemukan bahwa aktivitas bermain secara berkelompok dapat mengembangkan kerja sama, kekompakan, sportivitas, kejujuran, dan tanggung jawab.

Di sinilah lomba 17 Agustus memiliki fungsi sosial yang sering tidak disadari.

Warga yang sehari-hari mungkin hanya saling berpapasan dapat berkumpul dalam satu kegiatan. Anak-anak bermain bersama. Orang tua menjadi penonton. Remaja menjadi panitia. Pemuda menyiapkan perlengkapan. Ibu-ibu menyiapkan konsumsi. Ketua RT mengatur kegiatan.

Semua mengambil peran.

Dengan demikian, lomba menjadi ruang interaksi sosial.

Nilai ini semakin penting ketika kehidupan masyarakat semakin individualistis. Tidak semua orang yang tinggal dalam satu lingkungan otomatis memiliki hubungan sosial yang dekat. Lomba Agustusan dapat menjadi salah satu kesempatan sederhana untuk menciptakan kembali interaksi tersebut.

Tradisi permainan rakyat di berbagai daerah juga menunjukkan bahwa unsur kerja sama bukan sesuatu yang asing dalam budaya Indonesia. Permainan seperti geulayang di Aceh, misalnya, membutuhkan pembagian tugas, kesabaran, tanggung jawab, dan kerja sama antarpemain.

Karena itu, lomba 17 Agustus sebenarnya memiliki potensi lebih besar daripada sekadar mencari pemenang.

Jangan Sampai Tradisi Hanya Menjadi Rutinitas

Meski memiliki banyak nilai positif, tradisi lomba 17 Agustus juga perlu dievaluasi.

Permasalahan pertama adalah ketika kegiatan hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa memahami maknanya. Setiap tahun lomba dilaksanakan, tetapi generasi muda tidak mengetahui mengapa kegiatan tersebut dilakukan dan apa hubungannya dengan kemerdekaan.

Jika hal ini terus terjadi, lomba Agustusan berpotensi berubah menjadi sekadar hiburan tahunan.

Padahal, penelitian tentang lomba 17 Agustus tematik menunjukkan bahwa kegiatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat literasi budaya, nasionalisme, kreativitas, kerja sama, dan kepercayaan diri anak. Sebuah kegiatan pengabdian masyarakat di Bima, misalnya, menggunakan lomba seperti cosplay pahlawan, tari tradisional, dan menggambar untuk menghubungkan perayaan kemerdekaan dengan pendidikan karakter dan budaya.

Artinya, bentuk perlombaan dapat dikembangkan.

Lomba tidak harus selalu makan kerupuk atau balap karung. Masyarakat dapat menambahkan lomba yang berkaitan dengan sejarah lokal, permainan tradisional daerah, kebersihan lingkungan, kreativitas, kesenian, pengetahuan tentang pahlawan, atau kegiatan sosial.

Dengan cara tersebut, generasi muda tidak hanya menikmati Agustusan, tetapi juga memahami mengapa kemerdekaan perlu diperingati.

Aspek keamanan juga tidak boleh dilupakan. Panjat pinang, misalnya, memiliki risiko jatuh dan cedera. Perlombaan seharusnya dirancang dengan mempertimbangkan usia peserta, kondisi peralatan, lingkungan, serta pengawasan yang memadai.

Semangat kompetisi tidak boleh menghilangkan keselamatan.

Begitu pula dengan hadiah. Hadiah memang dapat membuat perlombaan semakin menarik, tetapi jangan sampai nilai kemenangan menjadi lebih penting daripada kebersamaan.

Sebab, inti tradisi rakyat bukan sekadar siapa yang membawa pulang hadiah. Yang lebih penting adalah siapa yang berhasil membangun kebersamaan selama prosesnya.

Lomba 17 Agustus bertahan bukan karena masyarakat Indonesia kehabisan jenis permainan. Tradisi ini bertahan karena memiliki nilai sosial dan emosional yang sulit digantikan.

Balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, bakiak, dan panjat pinang telah menjadi bagian dari memori masyarakat dalam merayakan kemerdekaan. Beberapa di antaranya bahkan memiliki akar sejarah sebelum Indonesia merdeka dan kemudian memperoleh makna baru dalam perayaan kemerdekaan.

Di balik kesederhanaan perlombaan terdapat nilai gotong royong, sportivitas, kerja sama, keberanian, tanggung jawab, dan kebersamaan. Kajian mengenai permainan tradisional juga memperlihatkan bahwa aktivitas semacam ini dapat menjadi sarana pembentukan karakter.

Karena itu, mempertahankan tradisi lomba 17 Agustus bukan berarti harus mempertahankan semua bentuknya tanpa perubahan. Tradisi justru akan lebih kuat apabila mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai dasarnya.

Generasi muda boleh menciptakan lomba baru. Teknologi boleh digunakan untuk mempromosikan kegiatan. Hadiah boleh dibuat lebih menarik. Konsep kegiatan boleh diperbarui.

Namun, satu hal jangan sampai hilang: semangat berkumpul dan merayakan kemerdekaan sebagai sebuah masyarakat.

Sebab pada akhirnya, kemenangan dalam lomba hanya berlangsung beberapa menit. Hadiah mungkin habis digunakan. Foto perlombaan mungkin tersimpan di galeri ponsel.

Tetapi pengalaman tertawa bersama tetangga, membantu teman mencapai puncak pinang, atau berlari bersama anak-anak di lapangan dapat menjadi kenangan yang bertahan jauh lebih lama.

Itulah alasan mengapa lomba 17 Agustus bukan sekadar permainan. Ia adalah cara sederhana masyarakat Indonesia merawat ingatan tentang kemerdekaan sekaligus merawat hubungan antarmanusia.

  1. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Makna di Balik Lomba 17 Agustus. 2024.
  2. RRI. Sejarah dan Makna Tradisi Perlombaan 17 Agustus di Indonesia. 2026.
  3. RRI. Terungkap, Begini Asal-Usul Lomba 17 Agustus yang Jarang Diketahui. 2026.
  4. ANTARA. Sejarah Lomba Balap Karung Saat Perayaan 17 Agustus. 2025.
  5. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud. Lomba Permainan Tradisional, Kembalikan Nilai Kebersamaan dan Kesatuan. 2017.
  6. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lomba Populer dan Unik untuk Perayaan 17 Agustus.
  7. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pesta Rakyat di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
  8. Suryaningsih dkk. Penguatan Literasi Budaya dan Karakter Anak Melalui Lomba 17 Agustus Tematik. Jurnal Ilmiah Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat, 2025.
  9. Traditional Games in Character Education Strengthening Programs in Elementary Schools. Seminar Nasional Inovasi Pendidikan, 2023.
  10. Pembentukan Karakter Anak Usia Sekolah Dasar Melalui Permainan Tradisional. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 2022.
  11. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Pengenalan dan Praktek Gotong Royong untuk Memperkokoh Karakter Generasi Muda. 2018.
  12. Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh. Geulayang: Permainan Rakyat Lintas Usia Sarat Nilai.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research