Suami Gantikan Puasa Istri yang Masih Hidup, Bolehkah?

1 week ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Allah SWT menyuruh kaum Muslimin untuk menunaikan puasa di sepanjang bulan suci Ramadhan. Dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 183, Dia berfirman.

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Bagaimanapun, ada kondisi-kondisi tertentu yang di dalamnya Muslim atau Muslimah diperbolehkan meninggalkan puasa. Hal itu dengan konsekuensi, wajib mengganti di hari lain (qadha) maupun membayar denda makan (fidyah).

Dalam konteks ini, apakah boleh seorang suami menggantikan (qadha) istrinya yang masih hidup? Untuk menjawabnya, pertama-tama dijelaskan terlebih dahulu golongan yang diperbolehkan meninggalkan puasa wajib.

Seperti dilansir dari laman Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ada dua kelompok utama orang-orang yang boleh tidak berpuasa Ramadhan.

Pertama, kelompok yang wajib qadha. Ini meliputi orang yang sakit (dengan ada harapan sembuh) dan musafir. Mereka wajib mengganti puasa pada hari lain sebanyak hari yang ditinggalkan.

Kedua, kelompok yang wajib fidyah. Ini terdiri atas orang tua yang sangat renta, pekerja yang sangat berat, orang sakit kronis yang tidak ada harapan sembuh, serta perempuan hamil dan menyusui. Mereka boleh tidak berpuasa dengan membayar fidyah, yakni memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan.

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَالَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ وَ شَطْرَ الصَّلَاةِ وَ عَنِ الْحُبْلَى وَ الْمُرْضِعِ الصَّوْمَ

Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh, Allah Yang Maha Besar dan Maha Mulia telah membebaskan puasa dan separuh shalat bagi orang yang sedang bepergian serta membebaskan puasa bagi orang yang hamil dan menyusui” (HR Ahmad dan Rawahul Khomsah).

Adapun tindakan suami yang melakukan qadha puasa untuk menggantikan utang puasa istrinya yang masih hidup, itu adalah tidak sah.

Sebab, kewajiban puasa bagi orang yang masih hidup bersifat individual, tidak dapat didelegasikan atau diwakilkan kepada orang lain walau suami atau anaknya sendiri. Selama seorang Muslim atau Muslimah masih hidup, tanggung jawab ibadah fisik, termasuk puasa Ramadhan, tetap berada pada dirinya sendiri.

Jika seseorang termasuk kategori wajib fidyah (seperti ibu menyusui), maka solusinya adalah membayar fidyah, bukan meminta orang lain berpuasa untuknya.

Syariat memberikan pengecualian hanya jika orang yang bersangkutan telah meninggal dunia dan masih memiliki utang puasa. Dalam kondisi inilah, pihak wali (termasuk suami atau anak) diperbolehkan berpuasa untuk almarhum atau almarhumah yang bersangkutan.

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ أُمِّى مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَقْضِيْهِ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى

“Seorang laki-laki datang menghadap Nabi SAW, kemudian ia berkata, ‘Ya Rasulullah, ibu saya telah wafat, padahal ia punya kewajiban puasa satu bulan. Apakah saya dapat berpuasa menggantikannya?’

Nabi SAW menjawab: ‘Ya’. Selanjutnya beliau bersabda: ‘Utang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan’” (HR Bukhari).

Suami atau wali hanya boleh meng-qadha puasa bagi istrinya apabila sang istri telah wafat dan meninggalkan utang puasa.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research