
Oleh: Ustadz Imam Nur Suharno; Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
REPUBLIKA.CO.ID, Sebelumnya orang kenal pesantren dari brosur yang dibagikan. Ada foto gedung baru, gedung sekolah bertingkat, asrama bertingkat, kantin, gedung serba guna, ada daftar biaya, ada tulisan besar "fasilitas lengkap". Cukup. Calon wali santri datang, lihat, lalu daftar. Sekarang caranya berubah.
Hari ini, di pelosok mana pun, seorang ibu membuka Instagram sebelum tidur. Ia tidak mencari brosur. Ia mencari rasa. Ia mengetik nama pesantren, lalu scroll. Ia ingin tahu, seperti apa anaknya nanti jika mondok di sana. Apakah gurunya menyayangi? Apakah lingkungannya aman? Apakah ada air mata, tawa, dan perjuangan yang membuatnya yakin menitipkan anak.
Di titik inilah pesantren diuji. Bukan soal seberapa megah gedungnya, tapi soal cerita apa yang kita berani tuliskan. Selama ini, banyak lembaga pendidikan masih berbicara satu arah. Cerita mempunyai ribuan santri, SPP terjangkau, fasilitas lengkap, prestasi santri yang mendunia, dan alumninya kuliah di perguruan tinggi bergengsi dalam dan luar negeri. Semua itu benar. Tapi semua itu juga bisa dikatakan oleh pesantren lain. Angka tidak membuat orang tergerak. Angka hanya membuat orang membandingkan.
Yang membuat orang tergerak adalah cerita. Cerita tentang santri baru yang pekan pertama nangis kangen rumah, lalu di minggu keempat sudah bisa menghafal. Cerita tentang ustadz yang rela begadang menunggu santri yang sakit. Cerita tentang suasana sahur di ruang makan, ketika lampu masih redup tapi suara murajaah sudah terdengar. Itulah yang disebut magnet. Ia tidak berteriak. Ia menarik.
Untuk menemukan cerita-cerita tersebut kita tidak perlu menunggu acara besar. Justru kekuatannya ada di rutinitas. Di balik rutinitas itulah makna hidup di pesantren. Ada perjuangan belajar, ketika seorang santri mengulang-ulang hafalan sampai bibirnya lancar. Ada habituasi ibadah, ketika azan subuh memanggil dan seluruh asrama bergerak bersama menuju masjid. Ada dedikasi guru, yang tidak selesai di jam kelas, tapi berlanjut di bimbingan tengah malam. Ada interaksi sosial, ketika santri belajar empati lewat bakti sosial, belajar tanggung jawab lewat piket, belajar akhlak lewat cara mereka menegur teman. Tempat ruang inilah yang harus menjadi rumah bagi konten kita. Bukan karena ingin terlihat sibuk, tapi karena di sanalah bukti pendidikan itu nyata.
Menyampaikannya juga membutuhkan cara berbeda-beda. Anak muda hari ini tidak membaca panjang. Mereka menonton lima belas detik. Maka kita butuh micro-story, potongan kisah yang cepat, jujur, dan langsung kena. Tapi ada juga wali santri yang ingin menyimpan sesuatu untuk dibaca ulang. Maka kita butuh carousel, rangkaian pesan yang dapat menjadi bekal. Dan ada juga orang yang hanya ingin merasa dekat. Maka kita membutuhkan behind the scene, live dari dapur, dari kelas, dari halaman. Ketika hal ini berjalan bersama, maka pesantren tidak lagi jauh. Ia hadir di genggaman.
Tentu gayanya tidak bisa sama untuk semua orang. Kepada calon santri kita bicara dengan bahasa mereka. Itu lebih dipercaya daripada pidato resmi. Kepada wali santri kita bicara dengan hati. Tunjukkan perjuangan, tunjukkan hasil, tunjukkan kenapa titipan mereka dijaga dengan baik. Kepada publik luas kita bicara dengan keindahan. Satu shot subuh, satu suara azan, satu cahaya dari jendela asrama. Tanpa banyak kata, orang akan mengerti.
Tentu jalan ini tidak selalu mulus. Ada pesantren yang sinyalnya lemah. Ada guru yang waktunya habis untuk mengajar. Ada tim yang bingung mulai dari mana. Tapi semua itu bukan alasan berhenti. Mulailah dari hal kecil. Bentuk tim kecil. Duduk tiga puluh menit setiap Senin misalnya. Tentukan tiga cerita untuk minggu ini. Beri tugas pada santri: buat video satu menit untuk pelajaran. Pilih dua yang terbaik, poles, lalu unggah. Bulan depan lihat lagi. Bukan berapa banyak likenya, tapi berapa banyak yang bertanya, berapa banyak yang menyimpan, berapa banyak yang akhirnya datang karena merasa sudah kenal.
Karena di akhir, ukuran keberhasilan bukan popularitas sesaat. Keberhasilan pesantren adalah ketika seorang ayah atau ibu di desa lain menonton video lalu berkata, "Di sinilah anak saya harus belajar." Itu konversi kepercayaan. Dan itu tidak lahir dari angka. Ia lahir dari narasi yang jujur.
Namun kejujuran itu juga harus dijaga adabnya. Kita tidak boleh mengorbankan privasi santri demi viral. Kita berkata apa adanya, tidak melebih-lebihkan. Kita harus memastikan setiap gambar, setiap caption tetap mencerminkan kemuliaan. Teknologi boleh canggih, tapi akhlak harus tetap di depan.
Pada akhirnya semua kembali ke satu kalimat. Narasi yang baik di era digital adalah dakwah yang paling relevan. Dahulu pesantren menjaga tradisi di balik tembok. Sekarang pesantren dipanggil untuk memimpin transformasi moral di luar tembok, lewat layar.
Jika kita diam, algoritma akan mengisi ruang itu dengan hal lain. Jika kita bercerita, kita sedang mengajak orang kembali pada kebaikan. Jadi pertanyaannya bukan lagi apakah kita perlu konten. Pertanyaannya adalah, cerita baik apa yang akan kita tuliskan hari ini?
Semoga pesantren di Tanah Air melek digital, sehingga jika setiap pesantren mampu memproduksi konten positif kegiatan santri secara masif maka dapat mewarnai ruang dakwah digital di seluruh sudut dalam dan luar negeri. Katakan, yakin kita bisa.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
3

















































