REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sudah menjadi pengetahuan umum Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan segmen yang berkontribusi besar bagi perekonomian nasional, yakni mencapai 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Namun, UMKM hingga saat ini bak sleeping giant yang menanti untuk benar-benar digali potensinya agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi lebih besar.
Director of Digital Economy Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menuturkan, kekuatan ekonomi Indonesia sebenarnya berada di sektor domestik. UMKM yang jumlahnya sangat besar dengan 95 persen di antaranya merupakan usaha mikro menjadi peluang besar untuk dikembangkan, terutama di tengah ketidakpastian perekonomian dan geopolitik global.
“Kalau kita lihat dari sisi domestik, sleeping giant-nya dari sisi pelaku usaha, bahwa di situ ada potensi yang cukup besar. Karena sejak krisis moneter 1999, UMKM masih bisa bertahan dan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi. Makanya di tahun 2026 ini, di tengah perang dagang dan sebagainya, mostly dampaknya paling banyak kepada non-UMKM. Karena itu yang paling berpeluang tumbuh besar adalah UMKM,” kata Nailul saat hadir dalam konferensi pers Amar Bank Digital Banking & Economic Outlook 2026: Awakening Indonesia’s Sleeping Giant di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026).
Namun, UMKM masih memiliki banyak persoalan yang perlu diurai dan dicarikan solusi yang tepat. Terutama, kata Nailul, terkait pembiayaan atau kredit yang masih lesu.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia tumbuh 9,69 persen secara tahunan (yoy) pada 2025. Kemudian pada Januari 2026 mengalami pertumbuhan 9,96 persen (yoy). Yang menjadi sorotan adalah pertumbuhan kredit UMKM yang melanjutkan tren kontraksi, bahkan mencatatkan pertumbuhan minus sebesar 0,30 persen pada akhir 2025.
Di sisi lain, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih cukup positif di angka 125,2 pada Februari 2026 berdasarkan data BI. Meski angka tersebut menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 127, namun masih berada pada zona optimistis (indeks >100).
Data-data tersebut memberi gambaran bahwa dari sisi konsumen kondisi ekonomi relatif baik. Namun, kondisi tersebut belum mampu mendorong pertumbuhan kredit UMKM. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai berbagai kendala yang sebenarnya dialami oleh pelaku UMKM, terutama terkait pembiayaan.
“Salah satu alasan kredit UMKM rendah adalah ternyata banyak yang bilang perbankan tidak tertarik membiayai UMKM. Kalau kita lihat proporsi kredit UMKM terhadap PDB itu terus menurun, kemudian proporsi kredit UMKM terhadap total kredit juga menurun. Ini menunjukkan bahwa perbankan lebih memilih menyalurkan kredit yang bersifat korporasi,” terangnya.

10 hours ago
3














































