Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
25 March 2026 17:05
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat di tengah tekanan geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah pada hari ini, Rabu (25/3/2026). Penguatan menjadi anomali dalam kinerja pasar modal Indonesia pada pembukaan hari pertama pasca lebaran.
IHSG hari ini tetap berakhir di zona hijau meski dihadang banyak sentimen negatif, terutama dari ketegangan geopolitik dunia.
Memanasnya perang Iran versus Israel- Amerika Serikat (AS), lonjakan harga minyak serta nada hawkish bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) semula dikhawatirkan akan membuat IHSG tersungkur.
Berdasarkan sejarah, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari pertama perdagangan setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri menunjukkan probabilitas yang berimbang. Namun, dalam dua tahun sebelumnya yakni pada 2024 dan 2025, IHSG ambruk parah.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2016 hingga 2025, IHSG mencatatkan penguatan sebanyak lima kali dan pelemahan sebanyak lima kali saat bursa kembali beroperasi.
Secara fundamental, pergerakan indeks di awal perdagangan pasca-libur merupakan bentuk penyesuaian harga (price-in). Selama bursa domestik ditutup, dinamika makroekonomi global tetap berjalan.
Berbagai sentimen eksternal, rilis data ekonomi, maupun kebijakan internasional yang muncul pada periode tersebut akan langsung direspons oleh pasar secara bersamaan pada hari pertama perdagangan.
Sebagai contoh dari sisi pelemahan, pada pembukaan bursa pasca-Lebaran 2025, IHSG mencatatkan koreksi sebesar 7,90%. Penurunan ini merupakan respons pasar terhadap pengumuman kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang muncul pada masa libur panjang.
Kondisi serupa terjadi pada tahun 2022, di mana indeks turun 4,42% sebagai bentuk penyesuaian terhadap keputusan kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (The Fed).
Di sisi lain, tren penguatan juga tercatat ketika terdapat katalis positif yang dominan. Pada tahun 2016, IHSG ditutup menguat 1,96%, yang didorong oleh respons positif pelaku pasar domestik maupun asing terhadap pengesahan undang-undang Tax Amnesty.
Data historis ini mengindikasikan bahwa arah pergerakan IHSG setelah libur Lebaran lebih banyak didikte oleh sentimen makroekonomi dan kondisi fundamental dibandingkan faktor musiman.
Oleh karena itu, pemantauan terhadap pergerakan bursa regional, harga komoditas, dan rilis data global selama bursa domestik libur merupakan langkah yang relevan untuk mengukur arah pembukaan pasar dan menentukan strategi alokasi aset.
Data 10 tahun menunjukkan IHSG selalu ambruk hebat dalam dua tahun terakhir pasca Lebaran. IHSG pun kini ditantang untuk mengakhiri kutukan.
Sayangnya,IHSG justru bakal langsung menghadapi ujian berat pada Rabu besok, terutama yang datang dari eksternal. Perkembangan perang Ira, membaranya harga energi serta sikap The Fed Yang lebih hawkish diperkirakan akan membuat IHSG goyang.
Seperti diketahui, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) kembali mempertahankan suku bunga di level 3,50-3,75%. The Fed juga diperkirakan akan memangkas suku bunga satu kali tahun ini, lebih pesimis dibandingkan proyeksi sebelumnya yakni dua kali.
The Fed mengumumkan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (19/3/2026) saat Indonesia masih libur Lebaran. Artinya, dampak The Fed belum masuk dalam hitungan pergerakan pasar keuangan Indonesia.
Berikut adalah ringkasan kinerja IHSG pada hari pertama perdagangan pasca libur Lebaran (2016-2026).
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google














































