Kerabat menangis di samping jenazah Julie Al-Balawi (8 tahun) di dalam Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, di Jalur Gaza selatan, pada 21 Juni 2026. Ia syahid akibat serangan Israel yang menargetkan pantai di Khan Yunis.
REPUBLIKA.CO.ID,JENEWA — Badan PBB untuk Anak-Anak (UNICEF) mengungkapkan, lebih dari 260 anak-anak Palestina di Jalur Gaza telah terbunuh serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025. UNICEF menggambarkan gencata senjata di sana hanya sebagai ilusi yang kejam dan memtikan.
"Kita berada di tengah-tengah gencatan senjata yang seharusnya, tetapi yang kita lihat adalah ilusi gencatan senjata yang kejam dan mematikan. Rata-rata satu anak tewas setiap hari,” kata Juru Bicara UNICEF, James Elder, saat diwawancara Anadolu Agency pada Kamis (25/6/2026).
Elder mengungkapkan, baru-baru ini sejumlah anak-anak di Gaza terbunuh akibat serangan drone dan pemboman udara Israel. “Sejak dimulainya gencatan senjata yang seharusnya ini, lebih dari 260 anak telah tewas,”ujar dia.
Dia pun memperingatkan bahwa situasi kemanusiaan yang dihadapi anak-anak Gaza terus memburuk. Mereka kekurangan gizi dan pasokan air bersih. “Kami telah berhasil mencegah kelaparan, tetapi kami belum mampu mendatangkan makanan bergizi dalam jumlah yang cukup,” ucap Elder.
“Tidak ada anak di Gaza yang dapat makan tiga kali sehari yang mengandung semua nutrisi yang mereka butuhkan. Inilah gambaran gencatan senjata di Gaza," tambah Elder.
Dia mengungkapkan, anak-anak membutuhkan diet yang beragam tetapi hanya menerima jenis makanan yang terbatas. Sementara itu, pembatasan pasokan logistik kemanusiaan terus menghambat upaya bantuan.
“Hampir sembilan bulan setelah gencatan senjata, masih ada kekurangan air yang signifikan, dan anak-anak tidak menerima nutrisi yang memadai,” kata Elder.

7 hours ago
4








































