Santri Bangkit: Mengaji, Mengabdi, Menggerakkan Ekonomi Umat

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di serambi pesantren, waktu selalu terasa berbeda. Di sana, subuh datang bersama lantunan wirid, siang diisi pelajaran kitab dan diskusi panjang, malam ditutup dengan doa yang menggantung ke langit. Hidup yang menetap di pondok, makan, belajar, tidur, dan bertumbuh dalam satu lingkungan, membuat santri memiliki sesuatu yang jarang dimiliki pelajar lain: intensitas.

Itulah yang ditekankan Ketua MPR RI Ahmad Muzani saat menghadiri buka puasa bersama di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Jakarta. Menurutnya, kehidupan mondok sesungguhnya adalah kesempatan emas. Santri tidak hanya belajar di kelas, tetapi hidup dalam atmosfer ilmu dua puluh empat jam.

“Santri harus menggunakan kesempatan ini dengan baik,” ujarnya. Kesempatan untuk membaca lebih banyak, bertanya lebih dalam, menggali bukan hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu umum yang menjadi bekal menghadapi zaman.

Bagi Muzani, pelajaran yang diberikan guru, ustaz, dan kiai di pesantren adalah fondasi metodologi dasar sebuah ilmu. Metode berpikir, cara memahami teks, dan kerangka menimbang persoalan. Setelah itu, ruang pendalaman terbuka luas, di kampus, di dunia profesional, atau di ruang-ruang pengabdian masyarakat. Ia melihat para alumni Asshiddiqiyah telah membuktikan hal tersebut: menapaki beragam profesi dan jabatan publik, bersaing di berbagai disiplin, tanpa tercerabut dari akar pesantren.

Akar itulah yang kini juga sedang ditumbuhkan menjadi cabang-cabang baru pemberdayaan. Di bulan Ramadhan 1447 Hijriah, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI meluncurkan program “Santri Memberdayakan Desa”. Sebanyak 78 santri diterjunkan ke 26 titik di delapan provinsi, dari Sumatera Selatan hingga Nusa Tenggara Barat, untuk tinggal bersama petani, peternak, dan pelaku UMKM binaan.

Bagi Pimpinan Baznas Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, program ini bukan sekadar penempatan relawan. Ia adalah “laboratorium nyata” bagi santri milenial. Di satu sisi, mereka mengisi pengajian, kultum subuh, dan literasi keagamaan; di sisi lain, mereka belajar langsung tata kelola agribisnis, manajemen lumbung pangan, dan pengembangan usaha mikro.

sumber : Antara

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research