Rupiah Melemah Rp17.500 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Kita Gak akan Sejelek Krisis 98

1 month ago 22

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik meski nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS. Pemerintah dan bank sentral, kata dia, terus memantau kondisi pasar keuangan dan pasar obligasi.

Enggak perlu panik, karena pondasi ekonomi bagus. Kita tahu betul kelemahannya di mana dan bisa kita betulin,” kata Purbaya di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Ia menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dengan krisis 1998. Menurut dia, pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas pasar dan nilai tukar.

“Kita nggak akan sejelek seperti 98 lagi. Kita akan cari langkah yang tepat,” tegasnya.

Rupiah pada perdagangan Selasa ditutup di level Rp 17.529 per dolar AS setelah sempat menyentuh Rp 17.500-an atau menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah. Namun, pada perdagangan Rabu, rupiah mulai menguat dan ditutup di kisaran Rp 17.476 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipicu keluarnya dana asing dari pasar domestik dan meningkatnya ketidakpastian global. Sentimen pasar juga dipengaruhi hasil evaluasi MSCI terbaru terhadap pasar saham Indonesia.

Dalam evaluasi MSCI Global Standard Indexes, tidak ada saham Indonesia yang masuk ke indeks, sementara enam emiten justru keluar dari daftar. Ekonom Universitas Brawijaya Noval Adib menilai hasil evaluasi tersebut masih cukup melegakan karena Indonesia tetap berada dalam kelompok emerging market.

“Dengan tetap berada di kategori emerging market, MSCI memberi sinyal bahwa pasar modal Indonesia masih layak investasi bagi investor global,” kata Noval.

Menurut dia, posisi tersebut penting untuk menjaga kepercayaan investor asing di tengah tekanan pasar keuangan global. Purbaya juga menekankan, stabilitas rupiah tetap menjadi kewenangan bank sentral. Namun, pemerintah akan ikut membantu menjaga kondisi pasar, terutama pasar obligasi.

“Kita nggak masuk ke pasar bond langsung. Tapi kita jaga stabilitas bond market,” katanya.

Menurut dia, pemerintah sudah meminta jajaran terkait, termasuk Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, untuk menyiapkan langkah stabilisasi pasar. “Ada langkah-langkah. Saya sedang perintahkan mereka untuk masuk, untuk keluarkan tindakan,” ungkap Purbaya.

Ia menambahkan kondisi pasar obligasi mulai menunjukkan perbaikan dan investor asing mulai kembali masuk ke pasar domestik. Meski begitu, pemerintah tetap memantau perkembangan pasar dalam beberapa bulan ke depan.

Selain soal rupiah, Purbaya juga menanggapi surat Kamar Dagang China yang menyoroti hambatan investasi di Indonesia. Ia menegaskan pemerintah tidak akan mengganggu investor selama menjalankan usaha sesuai aturan hukum di Indonesia.

“Kita nggak akan ganggu bisnis siapa pun di sini, asal mereka lakukan dengan legal. Kalau ilegal kita tindak,” katanya.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research