Rupiah Melemah Kerek Harga Kedelai, Disperindag Jateng: Harga Masih di Bawah HET

1 hour ago 1

Pekerja menyelasaikan proses pembuatan tahu di sentra produksi tahu kawasan Duren Tiga, Jakarta, Rabu (1/4/2026). Menurut pedagang harga kedelai di sentra industri produksi tahu mengalami kenaikan dari Rp15.600 menjadi Rp17.000 imbas konflik di Timur Tengah. Hal tersebut berdampak pada meningkatnya biaya produksi pembuatan tahu. Meski demikian penjualan tahu di pasaran masih belum mengalami kenaikan. Pedagang berharap, kenaikan harga kedelai bisa dikendalikan oleh pemerintah, sehingga tidak mengalami lonjakan drastis.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Julie Emmy, mengakui bahwa harga kedelai mengalami kenaikan. Produsen tahu dan tempe mengkhawatirkan harga kedelai akan semakin melambung menyusul pelemahan rupiah terhadap dolar AS. 

Emmy mengungkapkan, harga kedelai telah mengalami kenaikan dari Rp10.700 menjadi Rp11.100 per kilogram. "Namun harga ini masih di bawah HET (harga eceran tertinggi) Rp12 ribu," katanya ketika diwawancara, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, harga kedelai saat ini masih cenderung terkendali. Sebab tahun lalu, harga kedelai menembus Rp14 ribu per kilogram. "Memang kenaikan (harga) disebabkan karena produksi kedelai saat ini berkurang, kuota impor juga berkurang," ujar Emmy.

Dia mengungkapkan, terdapat beberapa negara yang menjadi importir utama kedelai ke Indonesia. Mereka antara lain Amerika Serikat, Kanada, Brasil, dan Brasil. "Tapi (impor kedelai) Brasil paling sedikit terdampak perang Selat Hormuz," katanya. 

Emmy mengaku, saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan perihal impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan di Jateng. "Kami terus pantau perkembangannya. Ini untuk mengamankan rantai pasok dan menata ulang tata niaga kedelai," ujarnya.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research