Rupiah Diprediksi Tembus Rp 17.550 per Dolar AS Pekan Ini

55 minutes ago 2

Nilai tukar rupiah menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (12/5/2026), tertinggi sepanjang sejarah. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (12/5/2026), tertinggi sepanjang sejarah. Pada pekan ini, mata uang Garuda diprediksi dapat mencapai Rp 17.550 per dolar AS di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik global serta kondisi ekonomi domestik yang belum cukup kuat menopang rupiah.

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 115 poin atau 0,60 persen menuju posisi Rp 17.529 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp 17.414 per dolar AS.

“Hari ini rupiah terus mengalami pelemahan, sudah menyentuh level Rp 17.500 per dolar AS. Angka Rp 17.550 per dolar AS kemungkinan besar akan tercapai dalam minggu ini,” ungkap Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa.

Ibrahim menuturkan, terdapat berbagai faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah, baik sentimen eksternal maupun internal. “Untuk sentimen eksternal, kita tahu bahwa Timur Tengah kembali memanas pasca AS menolak proposal yang dibuat Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar. Penolakan ini memicu ketegangan baru karena serangan-serangan kecil masih terjadi di Selat Hormuz. Artinya, ketegangan di Selat Hormuz masih terus memanas,” terangnya.

Meski Presiden Donald Trump menyampaikan perang sudah usai, kenyataannya di lapangan upaya saling serang masih terus terjadi. Secara terpisah, Uni Emirat Arab (UEA) disebut terus melakukan penyerangan terhadap Iran, termasuk serangan pada awal April yang menargetkan kilang di Pulau Lavan, Iran.

“Jadi, UEA sampai saat ini juga terus melakukan penyerangan walaupun tidak diekspos secara internasional. Tetapi ini mengindikasikan bahwa UEA, setelah keluar dari negara-negara anggota OPEC, terus melakukan penyerangan. Bisa saja di belakangnya adalah AS,” duga Ibrahim.

“Ini yang membuat indeks dolar kembali mengalami penguatan yang cukup signifikan,” lanjutnya.

Penguatan indeks dolar AS kemudian menyebabkan kenaikan harga minyak mentah, terutama Brent crude oil. Kenaikan harga minyak tersebut selanjutnya memberi dampak terhadap sektor transportasi dengan biaya yang semakin mahal.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research