Robotik dan AI Jadi Sorotan Forum IHKS 2026, Masuk Dunia Bedah tapi Dokter Tetap Pegang Kendali

6 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Perkembangan teknologi robotik dan Artificial Intelligence (AI) turut membawa perubahan dalam dunia bedah ortopedi. Teknologi tersebut dinilai dapat membantu dokter melakukan operasi secara lebih presisi, mulai dari persiapan operasi, pengukuran, hingga menjaga kestabilan saat prosedur berlangsung.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Forum Ilmiah Tahunan Indonesian Hip and Knee Society (IHKS) 2026 yang digelar di Yogyakarta selama tiga hari pada 20-22 Agustus 2026. Forum tersebut mempertemukan ratusan ahli bedah ortopedi dan peneliti dari 15 negara untuk saling bertukar pengetahuan sekaligus membahas perkembangan terbaru penanganan gangguan panggul dan lutut, termasuk pemanfaatan teknologi dalam tindakan operasi.

Presiden IHKS, dr Rizki Rahmadian menyampaikan teknologi robotik dalam operasi ortopedi pada prinsipnya berfungsi sebagai alat bantu bagi dokter bedah. Robot tidak menggantikan peran dokter, karena kendali sekaligus pengambilan keputusan medis tetap berada di tangan manusia.

"Walaupun istilahnya operasi dipandu menggunakan robotik, penggeraknya tetap adalah dokter bedah. Penggerak dan pemikirannya tetap manusia yang melakukan," ujar dr Rizki, Jumat (21/8/2026).

Menurutnya, penggunaan robotik terutama membantu dokter melakukan pengukuran secara lebih presisi. Dalam operasi penggantian sendi misalnya, dokter harus melakukan pengukuran dan pemasangan implan secara akurat, layaknya seorang insinyur memasang sebuah alat.

Robotik juga dapat membantu menjaga kestabilan selama operasi. Rizki tak menepis bahwa manusia memiliki keterbatasan fisik, seperti kelelahan maupun tremor pada kondisi tertentu. Sementara sistem robotik dapat membantu dokter melakukan tindakan dengan gerakan yang lebih stabil dan terukur.

"Yang biasanya kita mengukur dengan tools, dengan penggaris, dengan jangka sorong dan lain-lain, sekarang ada robot secara digital yang membantu kita menghitungkan. Biasanya lebih presisi," ungkapnya.

"Robot pada prinsipnya adalah sebagai pembantu supaya hasil operasi lebih baik, lebih stabil, dan lebih presisi," katanya menambahkan.

Selain robotik, perkembangan AI juga mulai dimanfaatkan untuk mendukung berbagai tahapan pelayanan medis. Rizki menilai, AI memiliki potensi untuk membantu dokter dalam mengumpulkan dan mengolah data, mendukung proses diagnosis, hingga menghasilkan prediksi mengenai kemungkinan hasil suatu tindakan medis.

"Memang teknologinya sudah sampai ke sana sekarang ya, untuk bagaimana artificial intelligence sudah berkembang, sudah berada di antara kita dan kita tidak bisa menafikan kalau itu adalah suatu teknologi yang yang baik. Tapi tetap butuh adanya otak manusia untuk bisa menyaring apakah informasi itu adalah informasi yang tepat untuk kita gunakan atau tidak," jelasnya.

Pemanfaatan AI masih bergantung pada kesiapan big data medis yang akurat di Indonesia. ," katanya.

Berbicara dalam kesempatan yang sama, President Indonesian Orthopaedic and Traumatology Society (IOTRS), dr Norman Zainal mengatakan AI pada dasarnya merupakan alat bantu yang bekerja dengan memanfaatkan big data. Karena itu, kualitas data menjadi salah satu tantangan penting dalam penerapan AI di bidang kesehatan di Indonesia.

"Artificial intelligence itu cuma tools, alat untuk membantu kita. Problemnya adalah dia bergerak dengan basis big data. Kelemahan kita di Indonesia adalah data kita belum benar," kata Norman.

Menurutnya, apabila data medis yang tersedia semakin lengkap dan berkualitas, AI dapat membantu proses pemeriksaan dan analisis secara lebih cepat. Teknologi tersebut bahkan berpotensi mengolah informasi dari pemeriksaan fisik maupun rekaman kamera untuk membantu mengidentifikasi kondisi pasien dan menentukan tingkat urgensi penanganan.

Selain itu, dr Norman juga menyebut AI dapat dikembangkan untuk memberikan gambaran mengenai kemungkinan hasil tindakan operasi. Dengan demikian, pasien diharapkan dapat memperoleh informasi yang lebih terukur mengenai kondisi dan hasil yang mungkin dicapai melalui suatu prosedur.

"Kelebihan AI lainnya adalah kemampuan melakukan predictive result. Jadi, hasil yang kemungkinan akan kita dapatkan sudah bisa diprediksi dan disampaikan kepada pasien. Misalnya, kalau dilakukan operasi, bentuknya akan seperti ini, ukurannya bisa sampai segini. Kalau lebih dari ukuran tersebut, sudah tidak memungkinkan lagi," ucapnya.

Meski demikian, ia menegaskan penggunaan AI tetap membutuhkan kemampuan dokter untuk memverifikasi dan menyaring informasi yang dihasilkan teknologi. Hal ini penting agar keputusan medis tidak sepenuhnya diserahkan kepada sistem AI.

"Verifikasi oleh dokter juga tetap menjadi bagian penting dalam penerapan teknologi tersebut," ujarnya.

Dipertahankan atau Diganti

Terkait forum IHKS 2026, Chairman IHKS Aditya Fuad Robby Triangga mengatakan ini menjadi ajang bagi para ahli ortopedi untuk membahas perkembangan terbaru dalam penanganan gangguan sendi. Selama tiga hari, kegiatan diisi dengan workshop dan sesi ilmiah interaktif yang mengulas pilihan mempertahankan sendi maupun melakukan penggantian sendi sesuai kondisi pasien.

Forum dua tahunan tersebut juga menghadirkan sekitar 100 pembicara dari dalam dan luar negeri. Mereka terdiri atas 24 international speakers dari 15 negara dan sekitar 76 pembicara nasional dari berbagai daerah di Indonesia.

"Dalam forum ini kami berdiskusi dan menyebarkan ilmu pengetahuan kepada sejawat ortopedi di seluruh Indonesia, terutama mengenai bagaimana meningkatkan pengetahuan dalam mempertahankan sendi maupun melakukan tindakan penggantian sendi demi meningkatkan kualitas hidup pasien," katanya.

"Tujuan utamanya adalah transfer of knowledge agar standar pengobatan ortopedi di Indonesia sejalan dengan standar internasional," ucapnya.

Pembahasan dalam IHKS 2026 juga melibatkan organisasi lain, salah satunya Indonesian Musculoskeletal Oncology Society (INAMSOS). Kolaborasi ini memperluas pembahasan, terutama dalam menangani kasus kompleks yang berkaitan dengan sistem muskuloskeletal, termasuk tumor dan kanker tulang.

President INAMSOS, Dokter Spesialis Onkologi Mujaddid Idulhaq mengatakan, upaya mempertahankan fungsi anggota gerak menjadi salah satu hal penting dalam penanganan pasien. Menurutnya, pilihan tindakan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien agar hasil pengobatan dapat optimal.

"Para ahli tidak hanya mendiskusikan pilihan mempertahankan atau mengganti sendi, tetapi juga perkembangan teknologi yang mendukung tindakan operasi termasuk adanya kehadiran robotik dan AI," ujarnya.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research