Ratusan Ribu Anak Indonesia Menunjukkan Gejala Depresi dan Cemas

3 hours ago 1

Seorang anak yang mengalami kecanduan gawai menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Jawa Barat di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (18/3/2021). Hasil pemeriksaan kesehatan dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hasil pemeriksaan kesehatan dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026 menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10 persen anak di Indonesia. Angka ini muncul setelah sekitar 7 juta anak menjalani pemeriksaan menyeluruh, di mana gejala kecemasan dan depresi terdeteksi dalam jumlah yang signifikan.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa tantangan tumbuh kembang anak saat ini tidak hanya berkutat pada kesehatan fisik atau pemenuhan gizi semata, tetapi juga stabilitas emosional yang membutuhkan perhatian lebih mendalam dari lingkungan terdekat. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala cemas (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder).

“Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” ujar Budi dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Kantor Kemenkes, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, menurut Budi, persoalan kesehatan mental pada anak perlu mendapat perhatian serius karena dapat berujung pada kematian akibat bunuh diri. Data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan tren peningkatan anak yang mencoba bunuh diri, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Budi mengatakan masalah kesehatan jiwa pada anak tidak hanya dipengaruhi faktor individu, tetapi juga lingkungan keluarga, pertemanan, serta pendidikan. “Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu mensosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Semua orang pasti menghadapi tekanan, namun yang terpenting adalah bagaimana meresponsnya dengan baik,” kata dia.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research