Ramadhan dalam Analogi Tuan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

1 hour ago 1

Umat Islam melaksanakan Shalat Tarawih pertama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (18/2/2026). Ribuan jamaah tampak memadati masjid terbesar se-Asia Tenggara untuk menunaikan ibadah shalat Tarawih perdana menyambut Ramadhan 1447 Hijriah. Pemerintah menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1447 Hijriah pada Kamis (19/2).

Oleh : KH Mukti Ali Qusyairi, Pengasuh Majelis Pengajian Hadharatul 'Ulum

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Analogi atau qiyas merupakan satu dari sekian banyak metodologi yang digunakan ulama Islam klasik dalam membangun argumentasi dan narasi keagamaan.

Semula dipelopori oleh Imam as-Syafii sebagai metode penggalian hukum syariat Islam dalam kitab usul fikihnya yaitu al-Risalah.

Lalu analogi digunakan oleh para ulama ilmu kalam atau ilmu tauhid, filsafat, dan tasawuf. Di antara ulama sufi yang menggunakan analogi adalah Tuan Syekh Abdul Qadir al-Jailani (AQJ) dalam menjelaskan bulan Ramadhan.

Dalam kitab al-Ghunyah li-Thalibay Thariq al-Haq 'Azza wa Jalla, Tuan Syekh AQJ menyatakan bahwa, bulan suci Ramadhan di dalam dua belas bulan bagaikan hati di dalam dada manusia, bagaikan para Nabi bagi para manusia lain di mana para Nabi adalah para manusia agung yang akan memberi syafaat (pertolongan) kepada para pendosa.

Sedangkan Ramadhan adalah bulan yang memberi pertolongan bagi orang-orang yang melaksanakannya, bagaikan tanah Haram/Suci (Mekah-Madinah) di mana Dajjal yang terlaknat tidak bisa masuk ke dalam tanah Haram/Suci dan setan dibelenggu pada saat bulan suci Ramadhan.

Ibadah dan amal saleh ketika dilakukan di tanah suci Mekah dan Madinah akan dilipatgandakan pahalanya sebagaimana ibadah dan amal shaleh yang dilakukan di bulan Ramadhan juga dilipatgandakan pahalanya.

Hati dihiasi dengan cahaya makrifat dan iman dan bulan ramadhan dihiasi dengan membaca Alquran.

Tuan Syekh AQJ menggambarkan bahwa Ramadhan adalah hati bagi bulan-bulan yang lain dalam satu tahun. Dalam pandangan sufisme bahwa hati adalah raja, akal adalah panglima, dan anggota tubuh yang lain adalah punggawa dan anggotanya.

Hati diposisikan sebagai penentu lantaran sebagai raja setelah kordinasi dan mendapatkan laporan dari analisa panglima akal, menurunkan titah kepada akal sebagai panglima untuk menggerakkan anggota-anggota tubuh yang lain.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research