REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Drone Shahed buatan Iran, murah, sederhana, namun mematikan, telah menjadi mimpi buruk bagi pertahanan udara negara-negara Teluk dan Israel dalam perang yang kini memasuki pekan ketiga.
Rudal dan drone ini terus diluncurkan ke arah sasaran sipil dan militer, meskipun sebagian besar berhasil dicegat. Yang membuat Shahed sulit dihentikan adalah kombinasi teknologi navigasi anti-jamming dan desain siluman yang murah meriah.
Thomas Withington dari Royal United Services Institute (RUSI) Inggris menjelaskan mekanisme navigasi Shahed yang cerdas. Drone ini terhubung ke GPS hanya sesaat sebelum atau setelah lepas landas untuk mencatat posisi awal, sebagaimana diberitakan Asharq al Awsath.
Setelah itu, penerima GPS dimatikan. Perjalanan selanjutnya mengandalkan giroskop dan sistem navigasi inersia yang mengukur kecepatan, arah, dan perubahan posisi secara mandiri.
“GPS akan terganggu oleh apa pun yang melindungi target,” kata Withington. “Jika Anda melihat peta gangguan GPS saat ini di Timur Tengah, Anda akan melihat banyak gangguan. Dengan tidak menggunakan GPS, Anda menghindari hal itu.”
Shahed bisa kembali mengaktifkan GPS sesaat sebelum benturan untuk akurasi lebih baik, atau tetap offline hingga akhir. “Tidak selalu akurat, tetapi seakurat yang dibutuhkan,” tambah Withington.
Rusia, yang memproduksi varian Shahed untuk perang di Ukraina, telah menyematkan “penekanan interferensi antena canggih” untuk menapis sinyal pengacau sambil mempertahankan sinyal GPS yang diinginkan, demikian temuan Lembaga Sains dan Keamanan Internasional AS tahun 2023.
Mekanisme serupa ditemukan di reruntuhan drone Shahed yang menyerang Siprus pada hari-hari awal perang ini, kata sumber industri Eropa. Todd Humphreys, profesor teknik kedirgantaraan Universitas Texas di Austin, menyebut perangkat itu menggunakan komponen siap pakai namun memiliki kemampuan setara peralatan GPS militer AS.
Material siluman menjadi faktor lain. Shahed dibuat dari bahan penyerap radar ringan seperti plastik dan fiberglass (makalah RUSI 2023). Ukuran kecil dan ketinggian terbang rendah memungkinkannya lolos radar pertahanan udara.
Beberapa ahli menduga Iran menggunakan sistem navigasi ganda. Serhii Beskrestnov dari Kementerian Pertahanan Ukraina menyatakan Iran memanfaatkan BeiDou (China) sebagai alternatif GPS AS. Varian Rusia menggunakan BeiDou dan GLONASS. Ada pula dugaan penggunaan LORAN, sistem radio era Perang Dunia II yang dihidupkan kembali Iran sejak 2016, meski belum dikonfirmasi aktif.
sumber : Antara

2 hours ago
3













































