Purbaya Nilai Moody’s Terlalu Pesimistis

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah menilai perubahan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody's Investors Service ke arah negatif terlalu pesimistis, karena kondisi ekonomi nasional justru dinilai telah berbalik arah dan menunjukkan tren perbaikan yang kuat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, kekhawatiran lembaga pemeringkat terhadap program pemerintah bersifat jangka pendek dan tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia saat ini.

“Yang jelas ekonomi kita sudah berbalik arah, lebih cepat daripada sebelumnya. Ke depan akan membaik juga, lebih bagus lagi saya pikir. Pertumbuhan akan lebih cepat,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jumat (5/2/2026).

Ia menilai, keraguan Moody’s akan memudar seiring berjalannya waktu dan membaiknya kinerja ekonomi. “Nanti saya pikir pelan-pelan Moody’s akan melihat apa yang terjadi di sini dengan lebih fair,” kata dia.

Purbaya menegaskan, lembaga pemeringkat pada dasarnya menilai kemampuan dan kemauan suatu negara dalam membayar utang. Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai tidak memiliki masalah. “Kan lembaga pemeringkat sebetulnya menilai untuk melihat apakah kita mampu bayar utang atau mau bayar utang. Dua-duanya kita penuhi, jadi seharusnya tidak ada masalah,” tegasnya

Ia juga menepis kekhawatiran pasar terhadap stabilitas fiskal. Menurut Purbaya, kondisi devisa masih terkendali dan kinerja ekonomi Indonesia relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara lain. 

“Dibanding negara-negara lain, kita (Indonesia) masih lebih bagus. Alasannya tidak terlalu kuat,” katanya.

Bahkan, pemerintah membuka peluang perbaikan peringkat kredit ke depan apabila tren pertumbuhan ekonomi berlanjut. “Justru seharusnya nanti pelan-pelan akan ada prospek upgrade, mungkin setelah akhir tahun ketika ekonomi kita tumbuh 6 persen atau lebih,” ujar Purbaya.

Ia menegaskan fokus pemerintah saat ini adalah memperkuat fundamental ekonomi melalui kebijakan fiskal yang terukur. Purbaya menambahkan, perbaikan ekonomi sudah terlihat sejak triwulan IV, ketika arah pertumbuhan berhasil dibalik melalui kombinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektoral. 

“Kita berhasil membalikkan arah ekonomi dengan biaya yang relatif minimum,” ujarnya.

Menurut dia, selama fondasi ekonomi terus menguat dan defisit tetap terkendali, tidak ada alasan kuat bagi pasar untuk meragukan ketahanan ekonomi nasional.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research