REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Psikolog dari Universitas Indonesia, Edward Andriyanto, menyoroti fenomana overthinking yang semakin banyak dialami mahasiswa. Ia menyebut kebiasaan berpikir berlebihan itu sering kali berakar dari luka inner child yang tidak disadari.
"Jadi semua mahasiswa itu datang ke kampus itu sudah punya memar. Tinggal seberapa besar dan bagaimana reaksinya ketika tersentuh," kata Edward saat menjadi pembicara di acara Out Loud yang digelar Republika bersama BKM FISIP UI di gedung FISIP Ul, Depok, Kamis (26/2/2026).
Menurut Edward, luka tersebut bisa terbentuk sejak kecil, misalnya dari pola pengasuhan yang lebih banyak menekankan kritik dibanding apresiasi. la mencontohkan kebiasaan membandingkan nilai anak dengan pencapaian orang lain.
Alih-alih mendapat penguatan positif, anak justru menerima pesan bahwa pencapaiannya belum cukup. Luka yang tampak kecil itu, kata dia, dapat menumpuk dan terbawa hingga masa kuliah.
"Jadi ketika mahasiswa menghadapi tekanan akademik atau komentar dari dosen, respons emosionalnya bisa terasa berlipat. Karena yang tersentuh bukan cuma masalah hari ini, tapi luka lama yang belum selesai," kata dia.
Untuk mengatasinya, Edward menyarankan untuk mencoba praktik mindfulness atau kesadaran penuh terhadap momen saat ini. la menilai mindfulness tidak harus dilakukan melalui kelas mahal, melainkan bisa dimulai dari aktivitas sederhana seperti makan dengan fokus penuh tanpa distraksi.
"Otak kita hanya bisa fokus pada satu hal dalam satu waktu, tapi kita jarang benar-benar hadir di momen itu. Makanya itu tadi kayak Netflix, kan itu hanya bisa putar satu film, enggak bisa mutar dua film sekaligus," jelas dia.
Selain pengelolaan diri, Edward menekankan pentingnya dukungan sosial. Teman dan keluarga disebutnya sebagai lapisan pertolongan pertama sebelum bantuan profesional. Karenanya ia pun mengajak generasi muda untuk belajar lebih peka dan terhubung pada sekitar.
"Nah curhat itu merupakan proses menemukan makna atas masalah. Seseorang biasanya berhenti bercerita ketika sudah menemukan pemahaman atas situasinya sendiri," kata dia.
Edward juga berbagi pengalaman pribadinya yang pernah mengalami depresi berat pada 2014 hingga harus menjalani pengobatan. la menemukan bahwa membantu orang lain menjadi salah satu cara efektif untuk memulihkan diri.
"Membantu orang lain membawa kebahagiaan yang kuat dan nyata. Ternyata dengan aku membantu pasien-pasien aku, itu bisa juga menjadi obat buat diri ini," kata dia.
Out Loud Republika adalah rangkaian acara talkshow dan healing experience bertajuk "Grow Through What You Go Through" yang berfokus pada kesehatan mental. Acara hasil kolaborasi Republika dan BKM FISIP UI ini menghadirkan narasumber seperti Danilla Riyadi dan ahli kesehatan, menawarkan sesi konseling dan skrining kesehatan mental gratis.
Acara ini juga didukung oleh Samsung Galaxy S26 Series, Bank Mandiri, Siloam Heart Hospital, Paragon Corp, Dompet Dhuafa, dan Darya-Varia Laboratoria.

7 hours ago
2










































