Foto ilustrasi: Logo halal terlihat di salah satu tempat makan di Gelaran ISEF 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (9/10/2025)
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- - Alquran dengan tegas memerintahkan manusia agar hanya mengonsumsi makanan yang halal lagi baik (thayib) serta melarang mengikuti langkah-langkah setan. Seruan ini termaktub dalam Surat Al-Baqarah Ayat 168, yang menegaskan bahwa setan adalah musuh nyata bagi manusia dan kerap menjerumuskan mereka melalui aturan-aturan yang dibuat tanpa dasar wahyu.
Melalui ayat ini, Allah SWT mengingatkan agar manusia tidak menetapkan hukum sendiri berdasarkan hawa nafsu atau tradisi turun-temurun. Menghalalkan dan mengharamkan adalah hak prerogatif Allah, sementara mengikuti langkah setan berarti menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Yā ayyuhan-nāsu kulū mimmā fil-arḍi ḥalālan ṭayyibā(n), wa lā tattabi‘ū khuṭuwātisy-syaiṭān(i), innahū lakum ‘aduwwum mubīn(un).
Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata. (QS Al-Baqarah Ayat 168)
Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini turun mengenai suatu kaum yang terdiri dari Bani Saqif, Bani Amir bin Sa‘sa‘ah, Khuza‘ah dan Bani Mudli. Mereka mengharamkan menurut kemauan mereka sendiri memakan beberapa jenis binatang seperti baḥirah yaitu unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelima itu jantan, lalu dibelah telinganya. Mereka juga mengharamkan wasilah yaitu domba yang beranak dua ekor, satu jantan dan satu betina, lalu anak yang jantan tidak boleh dimakan dan harus diserahkan kepada berhala.

2 hours ago
1












































