Perang Iran Hantam Pariwisata Dubai, Hotel Sepi hingga PHK Mengintai

6 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri pariwisata di Dubai terpukul keras akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kota yang sebelumnya menjadi salah satu destinasi paling ramai di dunia itu kini menghadapi penurunan tajam jumlah wisatawan hingga berdampak ke bisnis dan tenaga kerja.

Data menunjukkan, pada tahun lalu Dubai mencatatkan 19,59 juta wisatawan internasional. Namun sejak konflik pecah pada 28 Februari, sektor pariwisata langsung terguncang hebat.

Restoran, yang biasanya penuh setiap malam, kini banyak yang kosong. Natasha Sideris, pemilik jaringan restoran Tashas, mengungkapkan pendapatan bisnisnya anjlok lebih dari 50%.

Bahkan, restoran yang bergantung pada turis mengalami penurunan hingga 70-80%. Untuk bertahan, ia terpaksa memangkas gaji seluruh karyawan hingga 30% demi menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Kondisinya brutal. Saya harus memilih antara memecat 30% karyawan atau memotong gaji. Saya pilih menyelamatkan pekerjaan," ujarnya dikutip dari BBC, Jumat (10/4/2026).

Tekanan juga dirasakan sektor lain. Tingkat kunjungan ke restoran dilaporkan hanya tersisa 15-20% dari kondisi normal. Banyak pelaku usaha bahkan menutup sementara gerai dan merumahkan karyawan tanpa bayaran.

Dampaknya meluas ke seluruh ekosistem pariwisata, mulai dari hotel, maskapai, hingga agen perjalanan. Okupansi hotel di Dubai disebut turun drastis hingga hanya 15-20% dari level normal, bahkan beberapa hotel mencatat tingkat hunian satu digit.

Kondisi ini diperparah gangguan penerbangan. Ribuan jadwal penerbangan dibatalkan sejak konflik berlangsung, termasuk di Dubai International Airport yang merupakan bandara tersibuk dunia untuk rute internasional.

Serangan militer juga turut memicu kekhawatiran wisatawan. Otoritas menyebut lebih dari 2.400 rudal dan drone telah diluncurkan ke wilayah Uni Emirat Arab, dengan sebagian puing dilaporkan jatuh di area permukiman hingga hotel. Secara keseluruhan, 11 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 185 lainnya terluka akibat serangan tersebut.

Tak hanya turis yang terdampak, pekerja migran yang menjadi tulang punggung industri hospitality juga mulai terpukul. Banyak dari mereka mengalami pemotongan jam kerja hingga dirumahkan tanpa kepastian. Situasi ini bahkan disebut mirip dengan masa pandemi Covid-19.

"Kami takut kehilangan pekerjaan lagi dan harus pulang ke negara asal," kata seorang pekerja restoran.

Lembaga riset Tourism Economics memperkirakan kawasan Timur Tengah bisa kehilangan 23 hingga 38 juta wisatawan tahun ini, dengan potensi kerugian mencapai US$34 miliar hingga US$56 miliar.

Pemerintah Dubai sendiri telah menyiapkan paket dukungan senilai US$272 juta untuk menopang bisnis, termasuk sektor pariwisata. Sejumlah insentif seperti penundaan biaya hotel juga mulai diberlakukan.

Meski begitu, pemulihan masih bergantung pada situasi geopolitik. Jika konflik segera berakhir, sektor ini diperkirakan bisa pulih mulai Oktober. Namun jika berkepanjangan, risiko PHK massal dan penutupan bisnis akan semakin besar.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research