Menimbang berat badan (ilustrasi). Tanpa pengaturan menu dan kalori yang tepat, perubahan pola makan selama Ramadhan justru bisa memicu kenaikan berat badan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjalankan ibadah puasa pada bulan suci Ramadhan dapat dinilai membantu menurunkan berat badan. Namun, tanpa pengaturan menu dan kalori yang tepat, perubahan pola makan selama Ramadhan justru bisa memicu kenaikan berat badan.
Kepala Instalasi Gizi RSA UGM, Pratiwi Dinia Sari, mengatakan pemilihan jenis makanan saat sahur dan buka sangat menentukan keseimbangan energi. Banyak menu berbuka memiliki densitas kalori tinggi dalam porsi kecil. Jika pilihan makanan didominasi menu tinggi kalori, maka total asupan energi harian bisa berlebih sehingga berat badan berpotensi naik alih-alih turun.
"Apabila pemilihan menu makanan saat sahur dan berbuka lebih banyak makanan dengan densitas kalori tinggi, maka walaupun frekuensi atau porsi makan lebih sedikit bisa jadi tetap terjadi kelebihan asupan kalori sehingga yang terjadi justru kenaikan berat badan," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Senin (23/2/2026).
Pratiwi memberi contoh makanan tinggi lemak dan gula yang sering hadir sebagai takjil. Satu potong pisang goreng seberat 50 gram mengandung sekitar 130 kilokalori, mendekati kandungan kalori 500 gram pepaya.
Lalu satu sendok makan gula pasir setara kurang lebih 50 kilokalori. Minuman manis seperti es buah atau sup buah kerap mengandung tambahan sirup dan kental manis yang meningkatkan asupan gula.
"Apabila makanan tinggi lemak dan tinggi gula tersebut menjadi menu yang dipilih saat sahur dan berbuka tentu akan menambah jumlah asupan kalori sehari, dan apabila dikonsursi berlebih maka bisa menyebabkan kelebihan asupan kalorì," kata día.

6 days ago
8













































