Penipuan Digital Terus Membesar, Bisnis Kriminal Lintas Negara dengan Nilai Ekonomi Besar

9 hours ago 3

Ilustrasi modus scam atau penipuan finansial. OJK paparkan lima cara pelaku memanipulasi korban.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ancaman penipuan digital atau scam berkembang dengan pola yang semakin adaptif dan beragam, seiring pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). 

Group CEO VIDA Niki Luhur mengungkapkan, pelaku scam saat ini tidak lagi bisa dipandang sebagai individu yang bergerak sendiri. Di balik banyak serangan digital saat ini, terdapat jaringan yang lebih rapi, terkoordinasi, dan didukung kemampuan teknis yang semakin canggih.

“Penipuan sekarang tidak lagi bergerak secara acak atau dilakukan sendirian. Modusnya sudah makin rapi, terstruktur, bisa dijalankan dalam skala besar, dan kecanggihannya terus berkembang pesat,” ujar bos perusahaan penyedia solusi digital identity dan fraud prevention tersebut dalam podcast Endgame bersama mantan menteri perdagangan RI Gita Wirjawan belum lama ini.

Diskusi ini sekaligus menandai peluncuran resmi whitepaper VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook, yang memotret bagaimana lanskap penipuan digital di Asia Tenggara terus berkembang, baik dari sisi kecanggihan serangan, pemanfaatan teknologi generatif, maupun cara pelaku membaca momentum kepercayaan dan pergerakan likuiditas masyarakat. 

Lebih jauh, Niki menekankan bahwa scam kini telah berkembang menjadi bisnis kriminal lintas negara dengan nilai ekonomi yang sangat besar.

Ia mencontohkan pengungkapan kasus yang melibatkan Kamboja dan Myanmar, dengan penyitaan aset Bitcoin senilai 14 miliar dolar AS (setara dengan lebih dari Rp238 triliun). Niki juga menyoroti laporan tentang 800 Warga Negara Indonesia (WNI) yang mengantre di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kamboja untuk pulang setelah terjebak dalam kerja paksa jaringan scam. 

Menurut Niki, kasus ini menegaskan scam kini bukan lagi penipuan digital biasa, melainkan persoalan lintas negara dengan dampak yang semakin besar. Pada saat yang sama, perkembangan AI seperti deepfake dan synthetic identity membuat batas antara yang nyata dan palsu semakin tipis. Teknologi ini memungkinkan konten palsu tampil lebih realistis, meyakinkan, dan diproduksi jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu. 

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research