Pendiri TSI Soroti Pentingnya Rantai Makanan demi Selamatkan Harimau

3 hours ago 2

TSI ajak masyarakat pahami pentingnya rantai makanan harimau.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR, – Pendiri Taman Safari Indonesia (TSI) Tony Sumampau menekankan pentingnya pemahaman publik terhadap rantai makanan harimau sebagai kunci utama dalam upaya penyelamatan satwa liar. Ia menyampaikan hal tersebut dalam acara Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) yang digagas oleh Forum Konservasi Satwaliar Indonesia (Foksi) di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (22/8).

Tony mengajukan sebuah pertanyaan retoris yang menggambarkan akar permasalahan konservasi. "Bagaimana mau selamatkan harimau kalau rantai makanannya tak ada," ujarnya. Pernyataan ini menyoroti bahwa upaya perlindungan spesies tunggal tidak akan efektif tanpa menjaga keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

Gangguan Mata Rantai Makanan

Ia menjelaskan secara rinci bagaimana siklus alami tersebut terganggu. Buruan utama harimau adalah babi hutan. Namun, populasi babi hutan justru menurun drastis karena diburu oleh manusia. Akibatnya, mata rantai makanan harimau menjadi terputus.

Ketiadaan mangsa alami di habitatnya memaksa harimau untuk mencari sumber makanan alternatif. Satwa dilindungi ini akhirnya masuk ke permukiman penduduk dan memangsa hewan ternak atau peliharaan warga, seperti ayam dan anjing. "Kemudian harimau itu tertular penyakit dari anjing dan ayam," kata Tony, mengungkap ancaman lain yang timbul dari konflik manusia dan satwa.

Ancaman bagi Satwa Endemik Lain

Tony juga menyoroti perburuan terhadap anoa atau babi rusa, satwa endemik yang seharusnya dilindungi. Menurutnya, kondisi ini merupakan dampak langsung dari kurangnya pemahaman masyarakat terhadap spesies-spesies yang dilindungi undang-undang.

Selain mamalia, ia menyampaikan keprihatinannya terhadap nasib burung ekek sunda atau ekek geling jawa (Cissa thalassina) yang berasal dari Gunung Pangrango, Jawa Barat. "Bisa dikatakan keberadaan burung ini sudah nyaris punah karena tidak bisa ditemukan lagi di Gunung Pangrango," ungkapnya.

Kepunahan burung endemik ini didorong oleh praktik perburuan untuk dijadikan burung master, yaitu burung yang dipelihara khusus untuk melatih suara burung kicau lain. Tony menjelaskan bahwa burung ekek sunda memiliki tingkat stres yang sangat tinggi. Ketika dijadikan burung master, stres tersebut seringkali berujung pada kematian. "Burung ini stresnya cepat hingga nyawanya tidak lama setelah menjadi burung master," pungkasnya.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research