Panen Hancur karena Cuaca Ekstrem, Petani Korsel Gugat Perusahaan Listrik Negara

2 hours ago 2

Perubahan iklim (ilustrasi). Petani Korea menuntun perusahaan listrik negara karena dianggap bertanggung jawab pada kegagalan panen mereka.

REPUBLIKA.CO.ID, HAMYANG -- Petani apel Korea Selatan (Korsel) Ma Yong-un cemas terhadap masa depan keluarganya. Apel-apel yang ia tanam pucat. Selain kurang manis, harga apel yang tidak merah merona juga jauh di bawah apel berkualitas.

Selain itu, banyak buah yang pecah saat matang. Setelah musim panas terpanas yang pernah tercatat, Korsel mengalami musim gugur dengan hujan sangat deras hingga menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan untuk menghasilkan apel berkualitas.

"Saya belum pernah melihat retakan seperti ini sebelumnya. Saya sangat stres. Saya khawatir tentang kelangsungan hidup keluarga saya,” kata Ma seperti dikutip UPI, Senin (24/2/2026).

Gelombang cuaca kering menjelang panen sempat menyelamatkan sebagian warna buah. Namun, cuaca ekstrem yang kembali menghantam membuat hasil panen tetap jauh dari harapan. Ma memperkirakan separuh apel yang dipanennya tahun ini tidak memenuhi standar kualitas.

Kisah seperti itu semakin lazim terdengar di berbagai wilayah di Korsel. Gelombang panas, hujan lebat, kekeringan, dan pergeseran musim tanam, fenomena yang ilmuwan kaitkan dengan perubahan iklim, semakin merugikan petani.

Kini, pengalaman tersebut tidak lagi hanya menjadi keluhan di ladang dan sawah, tetapi masuk ke ruang sidang. Ma menjadi satu dari lima penggugat dalam gugatan perdata terhadap perusahaan listrik milik negara Korea Electric Power Corporation (KEPCO) dan lima anak usahanya di sektor pembangkitan listrik.

Para petani menuntut kompensasi finansial atas kerugian terkait perubahan iklim. Gugatan ini juga menguji apakah perusahaan penghasil emisi dapat dimintai pertanggungjawaban hukum atas dampak iklim yang terjadi di hilir.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research