Pakar ITB Jelaskan Bagaimana Abu Erupsi Gunung Anak Krakatau Bisa Sampai ke Bandung

8 hours ago 5

Gunung Anak Krakatau menyemburkan material vulkanik ke udara setelah erupsi di Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada tingkat siaga tertinggi kedua.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Guru Besar ITB Prof Asep Saepuloh menyampaikan sejumlah keunikan yang dimiliki Gunung Anak Krakatau yang mengeluarkan erupsi sejak pekan kemarin. Salah satunya sebagian besar tubuh Gunung Anak Kratakau berada di laut.

Selain itu, sumber magma di gunung tersebut masih aktif dan sistemnya yang terbuka. Ia menyebut kondisinya berbeda dengan gunung lainnya seperti merapi yang memiliki sumbatan di atasnya.

"Krakatau itu umumnya sistemnya open sehingga begitu ada suplai magma dari bawah, ada magma baru dari bawah langsung keluar sehingga tidak heran di Krakatau itu tipe letusannya seperti disampaikan PVMBG dan saksi mata yang merekam itu tipe strombolian," ucap prof Asep ditemui belum lama ini.

Ia mengatakan tipe strombolian adalah tipe letusan yang diakibatkan tipe magmanya encer atau sedang dan tidak sampai kental. Prof Asep menyebut erupsi yang membahayakan itu adalah magmanya kental sehingga sulit mengalir ke permukaan dan harus menghancurkan tutup di atasnya.

"Secara teori yang datang dari bawah langsung keluar mengalir, nah karena gas di magma Krakatau ini cukup tinggi maka sehingga keluarnya sepeerti pancuran itu disebut lava fountain. Dia memancur seperrti air mancur karena suplai ada terus sehingga erupsi dapat terjadi secara periodik memgeluarkan energi di bawah," kata dia.

Ia menyebut erupsi tipe strombolian biasanya memiliki risiko bahaya rendah hingga sedang karena tidak disertai erupsi yang merusak. Selain itu, erupsi tipe strombolian dapat diperhitungkan dari sisi ketinggian.

"Biasanya keluar sedikit dulu lalu bertahap sampai ke puncak yang paling tinggi kemudian berhenti lagi selesai. Satu fase mungkin di tahun berikutnya," kata dia.

Namun, ia mempertanyakan alasan erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini mencapai 15 kilometer sedangkan tipe strombolian hanya sampai ratusan meter dan hanya sampai dua kilometer. "Setelah dikaji lebih jauh Krakatau ini tumbuh di dasar laut dan sebagian tubuhnya terendam air nah ini hal yang menarik. Air satu material sangat reaktif apabila kontak dengan panas. Ini kata kuncinya air itu sangat reaktif kena panas. Panas dari mana panas dari magma itu encer itu. Magma itu temperaturnya bisa 1.000 sampai 1.200 derajat celcius sangat sangat panas dia bisa melelehkan material," kata dia.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research