Wastokim
Agama | 2026-09-22 13:41:31
Di zaman sekarang, informasi datang lebih cepat daripada kemampuan kita untuk mencernanya. Baru membuka WhatsApp, sudah puluhan pesan masuk. Membuka Facebook, TikTok, Instagram, atau YouTube, berbagai berita dan opini berseliweran. Ada kabar baik, kabar buruk, video viral, potongan ceramah, tuduhan, pujian, kritik, bahkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Dalam situasi seperti ini, falsafah Jawa “Ojo Kagetan, Ojo Gumunan, Ojo Gumede, Ojo Aleman” terasa semakin relevan. Empat nasihat tersebut dapat menjadi semacam “rem” bagi hati, pikiran, dan jempol kita sebelum menerima atau menyebarkan informasi.
---
1. OJO KAGETAN — Jangan Mudah Terkejut
Di media sosial, sebuah berita bisa dibuat sedemikian rupa sehingga orang langsung kaget, marah, takut, atau panik.
Judulnya dibuat bombastis, videonya dipotong, kemudian dibagikan berkali-kali. Akhirnya orang bereaksi sebelum sempat bertanya:
“Benarkah informasi ini?”
Padahal Al-Qur'an mengajarkan:
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Maka ojo kagetan di zaman digital berarti:
Jangan langsung percaya hanya karena viral.
Jangan langsung marah hanya karena membaca judul.
Jangan langsung menyimpulkan hanya karena melihat potongan video.
Berhenti sejenak. Tabayyun. Cari sumbernya. Lihat konteksnya.
Jangan biarkan jempol bergerak lebih cepat daripada akal sehat.
---
2. OJO GUMUNAN — Jangan Mudah Heran dan Silau
Media sosial adalah panggung yang penuh dengan kemasan.
Ada yang memamerkan kekayaan, jabatan, perjalanan, kendaraan, keberhasilan, popularitas, bahkan kehidupan rumah tangga. Ada pula tokoh yang tiba-tiba viral karena satu video.
Namun yang tampil di layar hanyalah bagian yang dipilih untuk ditampilkan. Kita tidak mengetahui seluruh kehidupan seseorang.
Allah SWT berfirman:
> وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ
“Janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka.”
(QS. Thaha: 131)
Karena itu:
Ojo gumunan bukan berarti tidak boleh mengagumi sesuatu yang baik. Tetapi jangan sampai terlalu silau hingga kehilangan ukuran.
Viral bukan berarti benar.
Banyak pengikut bukan berarti selalu benar.
Mewah bukan berarti mulia.
Terkenal bukan berarti paling berilmu.
Jangan jadikan jumlah views sebagai ukuran kebenaran.
---
3. OJO GUMEDE — Jangan Sombong karena Mendapat Perhatian
Media sosial juga dapat membuat seseorang mudah gumede.
Baru satu postingan viral, merasa menjadi tokoh.
Baru mendapat banyak komentar, merasa paling benar.
Baru memiliki banyak pengikut, merasa paling berpengaruh.
Padahal popularitas di media sosial sangat cepat berubah.
Allah SWT mengingatkan:
> وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Janganlah berjalan di bumi dengan sombong. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”
(QS. Luqman: 18)
Maka ketika postingan kita banyak yang menyukai, jangan merasa paling hebat.
Ketika pendapat kita mendapat banyak dukungan, jangan merasa pasti paling benar.
Ketika memiliki kesempatan berbicara di ruang publik, jangan lupa bahwa setiap kata juga akan dipertanggungjawabkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Di era media sosial, hadis ini dapat menjadi pengingat sederhana:
Tidak semua yang kita pikirkan harus diposting.
Tidak semua yang kita ketahui harus disebarkan.
Tidak semua yang viral harus kita komentari.
---
4. OJO ALEMAN — Jangan Mudah Mengeluh dan Baper
Media sosial juga sering menjadi tempat seseorang mencurahkan segala persoalan hidup.
Sedikit masalah langsung mengeluh.
Sedikit kritik langsung tersinggung.
Komentar berbeda langsung dianggap serangan.
Padahal kehidupan memang tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.
Allah SWT berfirman:
> فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Ojo aleman bukan berarti tidak boleh meminta bantuan atau mengungkapkan kesedihan. Tetapi jangan sampai media sosial menjadi tempat kita menggantungkan harga diri dan ketenangan hati.
Jangan ukur kebahagiaan dari jumlah like.
Jangan ukur harga diri dari jumlah followers.
Jangan ukur keberhasilan dari komentar orang.
Sebab nilai kita di hadapan Allah tidak ditentukan oleh algoritma media sosial.
---
LALU, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
Empat falsafah tersebut bisa menjadi empat rem sebelum jempol menekan tombol “bagikan”:
OJO KAGETAN → Tenang dulu.
OJO GUMUNAN → Periksa dulu.
OJO GUMEDE → Rendahkan hati.
OJO ALEMAN → Kuatkan diri.
Dan tambahkan satu prinsip penting dalam Islam:
TABAYYUN SEBELUM SHARE
Allah SWT berfirman:
> أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Sebab satu share mungkin hanya membutuhkan satu detik, tetapi dampaknya bisa bertahan berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.
Jempol kita kecil, tetapi akibat dari apa yang kita sebarkan bisa sangat besar.
Penutup
Di tengah derasnya arus informasi, orang berilmu bukan hanya orang yang banyak membaca, tetapi juga orang yang tahu kapan harus percaya, kapan harus bertanya, kapan harus diam, dan kapan harus berhenti menyebarkan.
Maka falsafah lama itu layak kita hidupkan kembali dalam dunia digital:
Ojo Kagetan — jangan mudah dipancing oleh berita.
Ojo Gumunan — jangan mudah silau oleh viralitas.
Ojo Gumede — jangan sombong karena popularitas.
Ojo Aleman — jangan mudah rapuh oleh komentar.
Saring sebelum sharing.
Tabayyun sebelum menyimpulkan.
Berpikir sebelum berkomentar.
Dan ingat: setiap yang keluar dari jempol, kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
*#SaringSebelumSharing*
*Aqym*
*WongNganu*
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

8 hours ago
3














































