Buku dan Peradaban Ilmu Pengetahuan

9 hours ago 2

Image iqra publika

Didaktika | 2026-09-22 16:38:32

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

(Penulis 58 buku dan praktisi perbukuan)

Buku memegang peranan penting dalam membangun peradaban. Hampir pada semua peradaban besar yang manggung dan memimpin peradaban dunia memiliki tradisi membaca dan menulis yang kuat.

Sebelum Islam datang, peradaban Yunani dan kemudian Romawi berkembang pesat dan memimpin peradaban dunia dengan membangun ilmu pengetahuan. Pemikiran-pemikiran para filosof dan cendekiawan ditulis dan dibukukan. Kemudian, disebarkan menjadi bacaan masyarakat secara luas. Terjadilah transformasi ilmu pengetahuan.

Ketika Islam lahir pada abad VII masehi di tengah bangsa yang jahiliyah, Islam hadir dengan spirit wahyu pertama iqra; bacalah, telitilah, renungilah, tulislah. Sebuah pesan kuat bahwa membangun peradaban harus dibangun di atas tradisi ilmu pengetahuan.

Hasilnya? Pada era khilafah Abbasiyah di Bagdad dengan Baitul Hikmah-nya, ilmu pengetahuan berkembang pesat di dunia Islam. Buku-buku para ulama, cendekiawan, dan ilmuwan menjadi konsumsi bacaan umat Islam secara luas. Peradaban Islam menjadi rujukan dan mercusuar peradaban dunia.

Bangsa Barat yang ketika itu tengah berada dalam era kegelapan, secara gradual mulai belajar ke Bagdad. Buku-buku karya para ulama, cendekiawan, dan ilmuwan muslim diterjemahkan besar-besaran dalam Bahasa Inggris, Prancis, dan Latin.

Karena itu, kita mengenal nama-nama cendekiawan muslim, yang ditulis dalam Bahasa Inggris dan Latin, seperti Averoes (Ibnu Rusyd), Avicenna (Ibnu Sina), Al-Gebra (Al-Jabar), Al-Goritmi (Al-Khawarizmi), Al-Batenius (Al-Battani), dan Al-Pharabius (Al-Farabi).

Apa yang terjadi? Barat mengalami renaissance. Bangsa Barat tercerahkan oleh ilmu pengetahuan, terlepas dari paradigma sekuler Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Secara perlahan peradaban Barat mulai berkembang, sementara pada sisi lain umat Islam mulai tenggelam dalam gaya hidup mewah dan meninggalkan tradisi ilmu pengetahuan. Akibatnya, peradaban Islam mulai menurun. Kemudian, digantikan peradaban Barat dalam memimpin peradaban dunia.

Dalam skala yang lebih kecil, Bangsa Jepang bangkit pasca kekalahan dalam perang dunia II melawan sekutu melalui ilmu pengetahuan. Kisah Kinjiro Ninomiya, seorang pemuda belia yang selalu membawa dan membaca buku ke mana pun pergi, bahkan saat mencari kayu bakar, disebarkan ke seantero sekolah-sekolah Jepang. Hasilnya? Jepang bangkit menjadi kekuatan Asia bersama China.

Bangsa ini memiliki sejarah kebesaran ilmu pengetahuan sejak masa kesultanan Islam Nusantara. Buku-buku karya para ulama Nusantara sejak dulu hingga kini banyak dikaji di dunia Islam. Pada era perjuangan kemerdekaan, kita juga mengenal tokoh-tokoh pergerakan, seperti Tjokroaminoto, Sukarno, Hatta, Natsir, dan Hamka adalah orang-orang yang haus membaca dan produktif menulis.

Bangsa ini memiliki pekerjaan rumah besar pada aspek literasi. Skor literasi masyarakat Indonesia berada pada prosentase 54,80%. Jika menggunakan data PISA (Programme for International Student Assessment), indeks literasi masyarakat Indonesia berada pada skor 359 jauh di bawah rata-rata global 476.

Bangsa ini juga masih memiliki masalah dalam rasio jumlah penduduk usia 25 – 34 tahun yang tamat Perguruan Tinggi. Merujuk data BPS (Badan Pusat Statistik) 2025, prosentase lulusan perguruan tinggi (Diploma-S3) berada pada angka 10,97%. Meski angka ini menunjukan peningkatan setiap tahunnya, namun masih di bawah rata-rata 48 negara anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) pada angka 47,42%. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN pun, Indonesia berada di bawah Singapura, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Brunei Darussalam, sebagaimana direlease UNESCO.

Inilah dua pekerjaan rumah besar bangsa Indonesia yang harus diperbaiki jika ingin berhasil dalam membangun peradaban madani di Indonesia, peradaban yang ditopang dengan ilmu pengetahuan. Agenda besar menuju Indonesia Emas 2045.

Karena itu, saya memilih jalur perbukuan dan ilmu pengetahuan sebagai kontribusi membangun peradaban madani di Indonesia. Mungkin ini jalan sunyi. Tak mengapa, semoga bisa mengabadi. Semoga senantiasa diberikan kelurusan dan keteguhan niat dalam hati. Seperti kata Imam Malik, “Apa-apa yang dilakukan karena Allah, itulah yang akan abadi.”

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Lifestyle | Syari | Usaha | Finance Research