REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peristiwa Isra Mi'raj 1447 Hijriah yang jatuh pada awal tahun 2026 ini disambut dengan semarak spiritualitas yang melampaui sekadar seremoni tahunan.
Dari ujung timur Nusantara di Manokwari hingga ke pusat ibu kota Jakarta, risalah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Sidratul Muntaha kembali dibedah maknanya.
Di tengah dinamika zaman yang serba cepat, momentum ini hadir sebagai pengingat abadi bahwa kemajuan infrastruktur fisik bangsa harus selalu berjalan beriringan dengan penguatan fondasi spiritual agar tercipta kesejahteraan yang utuh, bermartabat, dan penuh keberkahan.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa peringatan ini merupakan ujian ketakwaan dan tauhid bagi setiap Muslim. Peristiwa yang berada di luar nalar manusia tersebut menuntut aktualisasi nyata dalam kehidupan kebangsaan. Haedar menekankan pentingnya membangun relasi murakabah, yaitu kesadaran spiritual mendalam bahwa setiap hamba senantiasa diawasi oleh Sang Pencipta. Jika kesadaran ini hidup dalam jiwa setiap warga dan pemimpin bangsa, maka hasrat untuk melakukan perbuatan buruk seperti korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan akan sirna dengan sendirinya.
Pesan spiritual ini menemukan gaung konkretnya di Kabupaten Manokwari, Papua Barat. Pemerintah daerah setempat menjadikan nilai-nilai Isra Mi'raj sebagai pijakan strategis dalam memperkuat arah pembangunan daerah. Wakil Bupati Manokwari, H. Mugiyono, menyebutkan bahwa nilai ketaatan dan kedisiplinan yang termaktub dalam perintah shalat harus menjadi landasan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Baginya, pembangunan sumber daya manusia yang inklusif dan religius di Manokwari adalah cara terbaik untuk membumikan risalah langit tersebut di bumi Cendrawasih.
Implementasi nilai-nilai tersebut salah satunya mewujud dalam komitmen menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman Manokwari. Pemkab Manokwari merawat tradisi gotong royong dan dialog lintas iman untuk memastikan setiap kebijakan publik bersifat inklusif. Pendekatan ini selaras dengan ajaran solidaritas universal yang memperkuat ketahanan sosial masyarakat, terutama dalam menghadapi tantangan zaman dan risiko bencana. Dengan membangun sistem komunikasi warga yang solid, stabilitas daerah dapat tetap terjaga dari isu-isu yang berpotensi memecah belah persatuan.
Lebih jauh, Haedar Nashir menyoroti bahwa bangsa ini sedang mengalami "kegersangan keteladanan". Isra Mi'raj seharusnya menjadi cermin bagi para elite dan pemimpin bangsa untuk menyelaraskan antara ucapan luhur agama dengan tindakan nyata. Para pemimpin di setiap level diharapkan menjadi "oase" yang meneduhkan masyarakat luas yang haus akan figur teladan otentik. Keteladanan yang jujur dan seksama dari para pemimpin akan melahirkan rasa hormat serta kepercayaan yang mendalam dari seluruh warga bangsa.
Ketahanan sosial yang diperkuat melalui pemberdayaan ekonomi komunitas di tingkat kampung juga menjadi bagian dari semangat Isra Mi'raj di Manokwari. Dengan rasa saling percaya dan kerja sama antarwarga, masyarakat tidak akan mudah rapuh menghadapi tekanan global. Manokwari dipandang sebagai rumah bersama, di mana pembangunan fisik tidak boleh meninggalkan penguatan nilai persaudaraan dan toleransi yang telah lama menjadi ciri khas masyarakat setempat.
Sejalan dengan visi tersebut, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Manokwari, Saleh Mandar, menambahkan bahwa nilai spiritual memiliki peran vital dalam membentuk integritas pelayanan publik. Etos kerja yang didasari rasa takut kepada Tuhan akan melahirkan pelayanan yang jujur dan tulus kepada masyarakat. Sinergi antara nilai keagamaan dan tata kelola pemerintahan inilah yang akan mempercepat terwujudnya daerah yang maju dan religius.
Sebagai penutup, peringatan Isra Mi'raj tahun 2026 ini menjadi panggilan bagi seluruh elemen bangsa untuk belajar terus-menerus menampilkan keteladanan yang jujur. Perjalanan agung Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita bahwa kesuksesan tertinggi diraih melalui kedisplinan ibadah dan kepekaan sosial.
Dengan menjadikan iman sebagai sumber ketenangan dan persatuan, Indonesia diharapkan mampu melewati berbagai tantangan dengan jiwa yang saleh, integritas yang kokoh, dan semangat gotong royong yang tak kunjung padam.
sumber : Antara

4 hours ago
1













































