REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Tim penyelamat Israel mengatakan lebih dari 100 orang terluka dalam serangan rudal Iran di dua kota pada Sabtu (21/03/2026) waktu setempat. Pertama serangan di Kota Dimona di selatan, tempat fasilitas nuklir utama Israel berada, dan kedua di Kota Arad di dekatnya.
Dilansir Al Jazeera, serangan itu digambarkan sebagai salah satu eskalasi paling dramatis sejak AS-Israel memulai perang melawan Iran pada akhir Februari lalu. Menurut layanan darurat Israel, sedikitnya 88 orang terluka di Arad, termasuk 10 orang dalam kondisi serius, dengan kerusakan yang meluas dilaporkan di pusat kota.
Sebanyak 39 orang lainnya terluka di Dimona, termasuk seorang berada dalam kondisi kritis, dengan beberapa luka akibat pecahan peluru, setelah beberapa bangunan tempat tinggal hancur. Seperti biasa, Israel menyensor informasi adanya korban tewas dalam setiap serangan Iran.
Menanggapi serangan tersebut, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menggambarkan kesedihannya sebagai malam yang sulit bagi Israel. Ia berjanji untuk terus menyerang Iran.
"Kita sedang melewati malam yang sangat sulit dalam perjuangan untuk masa depan kita," kata Netanyahu. Untuk diketahui, serangan AS-Israel sejak 28 Februari telah menewaskan lebih dari 1.500 orang warga Iran, termasuk lebih dari 200 anak-anak.
Seorang juru bicara militer Israel mengatakan, sistem pertahanan udara Israel diaktifkan selama serangan tersebut. Namun, mereka gagal mencegat beberapa rudal, padahal rudal-rudal tersebut bukanlah rudal baru yang mereka hadapi.
“Di Dimona dan Arad, rudal pencegat diluncurkan namun gagal mengenai sasaran, sehingga mengakibatkan dua serangan langsung oleh rudal balistik dengan hulu ledak seberat ratusan kilogram,” kata petugas pemadam kebakaran.
Televisi pemerintah Iran menggambarkan serangan itu sebagai balasan atas serangan terhadap kompleks pengayaan nuklir Natanz Iran pada hari yang sama. Hal itu menandai fase baru yang mencolok dari penargetan fasilitas yang sama dalam konflik yang kini memasuki minggu keempat.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengaku tidak menerima laporan indikasi kerusakan pada Pusat Penelitian Nuklir Shimon Peres Negev di Dimona. Karena itu, tidak ada tingkat radiasi abnormal yang terdeteksi di daerah tersebut.
Badan pengawas nuklir mengatakan pihaknya memantau situasi dengan cermat. Direktur Jenderal Rafael Grossi mendesak agar pengekangan militer maksimal harus diperhatikan, khususnya di sekitar fasilitas nuklir.

3 hours ago
3
















































