REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi dunia, Nadhira Al Harthy mungkin dikenang sebagai perempuan pertama Oman yang berhasil menaklukkan Gunung Everest. Namun bagi sahabat dan kerabat, ia adalah sosok yang rendah hati, penuh rasa ingin tahu, serta memiliki kepedulian yang besar terhadap sesama.
Di balik prestasinya sebagai pendaki gunung kelas dunia, Nadhira menjalani kehidupan yang sederhana. la bekerja sebagai pegawai Kementerian Pendidikan Oman dan pernah menjadi guru geografi. Meski demikian, ia menyimpan mimpi besar untuk menapaki puncak-puncak tertinggi di dunia.
Keberhasilannya mencapai puncak Everest pada 2019 menjadi inspirasi bagi banyak perempuan di kawasan Teluk untuk berani menjajal olahraga petualangan yang selama ini identik dengan laki-laki. Namun siapa sangka, perjalanan hidup Nadhira pun harus berakhir di gunung.
Nadhira menjadi salah satu korban longsoran salju yang menerjang Broad Peak, gunung setinggi 8.047 meter di Pegunungan Karakoram, wilayah Gilgit-Baltistan yang dikelola Pakistan, pada Kamis (30/7/2026). Longsoran terjadi sekitar tengah hari saat tim ekspedisi 14 Peaks Project tengah melakukan pendakian. Proyek tersebut bertujuan menaklukkan seluruh 14 gunung di dunia yang memiliki ketinggian lebih dari 8.000 meter, sebuah tantangan yang dikenal sebagai salah satu pencapaian paling sulit dalam dunia pendakian.
Nadhira menargetkan dua pencapaian baru tahun ini yakni menaklukkan Broad Peak (8.051 meter) dan Gasherbrum I (8.080 meter). Namun impian itu pupus akibat bencana tersebut. Pada Jumat (31/7/2026), Nadhira dikonfirmasi meninggal dunia bersama tiga pendaki lainnya.
Kecintaan Nadhira terhadap dunia pendakian bermula pada 2015. Saat itu ia mengorganisasi perjalanan para siswanya untuk mendaki Gunung Kilimanjaro di Tanzania. Namun, ia sendiri gagal mencapai puncak karena mengalami penyakit ketinggian (altitude sickness). Alih-alih menyerah, pengalaman itu justru memicu semangatnya. la kembali ke Kilimanjaro dan berhasil menyelesaikan pendakian.
"Gunung itu memberikan sesuatu kepada orang-orang. la kembali, berhasil mendakinya, lalu terus mendaki berbagai puncak lainnya," kata pendiri AFT Adventures di Uni Emirat Arab, Faisal Shamani dilansir laman Khaleej Times, Senin (3/8/2026).
Meski kemudian memecahkan berbagai rekor bagi negaranya, Nadhira tidak pernah mengejar popularitas. Sahabatnya, dr Laila Karub Al Kharusi, seorang dokter gigi asal Oman, mengenang Nadhira sebagai pribadi yang sangat sederhana. Mereka pertama kali bertemu pada 2019, beberapa waktu setelah Nadhira menaklukkan Everest.
"Saat pertama melihatnya, saya merasa wajahnya familiar. Saya bertanya apa pekerjaannya, dan ia hanya menjawab bekerja di Kementerian Pendidikan. Tidak ada sepatah kata pun tentang Everest ataupun pencapaiannya," ujar Laila.
Barulah ketika Duta Besar Nepal menyampaikan ucapan terima kasih kepada Nadhira dalam peringatan Hari Nasional Nepal dan Hari Konstitusi Nepal atas kontribusinya terhadap hubungan Oman-Nepal, Laila menyadari bahwa perempuan sederhana yang ditemuinya adalah pendaki Everest pertama dari Oman. Menurut Laila, Nadhira hanya bersedia tampil di depan publik apabila dapat menginspirasi orang lain atau membantu menggalang dana demi mewujudkan impian pendakiannya.

7 hours ago
4












































