REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jarak ribuan kilometer antara lereng Gunung Sumbing dan tanah Rencong seolah menyusut oleh kekuatan solidaritas kemanusiaan. Di tengah perjuangan saudara-saudara kita yang terpukul musibah, aliran bantuan untuk Aceh terus mengalir sebagai bukti bahwa duka mereka adalah duka kita bersama.
Inisiatif ini bukan sekadar soal pengiriman barang logistik, melainkan sebuah pesan cinta yang dikirimkan melalui langkah-langkah nyata para pejuang kemanusiaan yang rela meninggalkan kenyamanan rumah demi memulihkan senyum anak-anak di serambi Mekkah.
Saat ini, Kabupaten Aceh Tamiang masih berjuang memulihkan diri dari hantaman bencana hidrometeorologi hebat yang melanda sejak akhir 2025. Material lumpur yang tebal dan sisa-sia luapan air sungai sempat melumpuhkan aktivitas warga, merendam pemukiman, dan yang paling memprihatinkan, menghancurkan fasilitas-fasilitas pendidikan.
Di banyak titik, ruang kelas kini menyisakan dinding yang kusam dan bangku-bangku yang hancur, membuat ribuan siswa terpaksa menunda mimpi mereka karena hilangnya sarana belajar yang layak.
Kondisi infrastruktur sekolah yang rusak parah memerlukan penanganan cepat agar generasi muda di Aceh Tamiang tidak kehilangan waktu berharga mereka. Kerusakan alat bantu belajar hingga buku-buku pelajaran yang hanyut menjadi beban berat bagi para guru dan orang tua yang juga sedang berupaya membangun kembali hidup mereka dari nol. Di sinilah kehadiran bantuan fisik dan dukungan psikologis menjadi oksigen bagi napas pendidikan yang sempat terhenti akibat terjangan alam.
Merespons jeritan hati dari tanah Aceh tersebut, Bupati Temanggung Agus Setyawan secara resmi melepas tim relawan gabungan beserta bantuan senilai Rp1,24 miliar. Misi yang mengusung tema "Temanggung Peduli Aceh Tamiang" ini secara spesifik membidik sektor pendidikan sebagai prioritas utama.
"Kita akan merehabilitasi dua Sekolah Dasar dan satu PAUD beserta sarana-prasarananya, termasuk seragam sekolah anak-anak. Jangan pulang dulu sebelum tiga sekolah itu selesai diperbaiki," tegas Agus di Pendopo Pengayoman Temanggung, Sabtu (17/1/2026).
Dana yang terkumpul merupakan buah dari kedermawanan kolektif masyarakat Temanggung sejak awal Desember lalu. Tiga sekolah yang menjadi target utama adalah SD Negeri Pahlawan di Kecamatan Karang Baru, SD Negeri Upah di Kecamatan Bendahara, dan TK Pembina Desa Pahlawan. Tim relawan tidak hanya akan memoles tampilan fisik melalui pengecatan ulang, tetapi juga melengkapi kelas dengan komputer, meja-kursi baru, alat tulis, hingga melakukan kegiatan trauma healing bagi 50 guru yang terdampak.
Di balik misi besar ini, terselip kisah-kisah pengabdian personal yang mengharukan dari 28 personel yang diterjunkan. Salah satunya adalah Duwik Setiyanto, seorang sopir truk pengangkut sampah yang sehari-hari bertugas di Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Temanggung.
Kali ini, Duwik mengganti kemudinya dengan truk serbaguna BPBD bermuatan empat ton logistik untuk menempuh jalur darat menuju Aceh. "Mohon doa restu masyarakat Temanggung agar misi kemanusiaan ini diberikan kelancaran," ucapnya tulus sebelum memulai perjalanan panjang melintasi pulau.
Misi ini dijadwalkan berlangsung selama dua pekan, mulai 21 hingga 28 Januari 2026. Melalui kolaborasi dengan Dinas Pendidikan setempat, sebanyak 500 paket sarana pendidikan berupa tas, sepatu, dan seragam siap dibagikan untuk menyambut kembalinya siswa ke bangku sekolah.
Inilah bentuk nyata empati Temanggung untuk Aceh, sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa fasilitas pendidikan di Aceh Tamiang benar-benar bisa digunakan kembali dengan layak, sehingga masa depan anak-anak di sana tidak ikut hanyut terbawa banjir.
sumber : Antara

4 hours ago
1













































