REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah masifnya upaya insentif pemerintah untuk percepatan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB), sektor kendaraan niaga berat, khususnya truk, dinilai masih terabaikan. Padahal, data kajian IESR baru-baru ini menunjukkan bahwa populasi truk yang hanya mencakup 4 persen dari total kendaraan atau lebih dari 6 juta unit di jalan raya menyumbang hingga 30 persen dari total emisi sektor transportasi di Indonesia.
Melihat urgensi tersebut, 'Janji Jangan Ngebul' sebuah kampanye yang memiliki perhatian terhadap masalah ini diperkenalkan di sela-sela ajang Indonesia Net Zero Summit 2026. Kampanye ini hadir untuk mendorong produsen otomotif mengambil peran aktif dan memimpin transisi elektrifikasi pada armada truk nasional.
Campaign Lead 'Janji Jangan Ngebul', Rafaela Xaviera menegaskan bahwa komitmen
dekarbonisasi produsen otomotif tidak boleh berhenti pada dokumen di atas kertas atau terbatas pada segmen kendaraan penumpang. “Walau produsen otomotif telah menunjukkan komitmen dukungan kepada ekosistem kendaraan listrik yang semakin baik, namun fokusnya masih sangat dominan di kendaraan penumpang.
“Kami ingin memastikan segmen truk, yang juga memberikan dampak lingkungan nyata
berdasarkan kajian yang sudah ada, juga mendapatkan perhatian yang setara. Kami ingin mendorong kesadaran bahwa produsen memiliki kapabilitas teknis dan kapital untuk mempercepat transisi ini," jelas Rafaela.
Dari sisi teknis, kelayakan truk listrik telah teruji secara global, seperti yang ditunjukkan oleh adopsi masif di Cina dan Eropa. Tantangan utama di Indonesia saat ini berada pada sisi pasokan (supply-side), kesiapan infrastruktur pengisian daya (charging infrastructure), hingga rantai pasok komponen lokal. Untuk itu, peran aktif dan keberanian investasi awal dari pabrikan untuk mendukung ekosistem truk listrik sangat dibutuhkan guna menciptakan skala ekonomi dan mempercepat terwujudnya armada logistik bebas emisi.
Project Lead Just EV dari Enter Nusantara Balqist Aroma Bunga, menekankan bahwa
elektrifikasi sektor logistik berkaitan erat dengan ketahanan ekonomi dan energi nasional. "Ketergantungan pada BBM impor membuat perekonomian dan rantai pasok kita sangat rentan, padahal truk adalah tulang punggung logistik nasional," katanya.
Balqist menambahkan, transformasi ke truk listrik bukan sekadar isu lingkungan, melainkan strategi ketahanan energi. Produsen otomotif yang jeli melihat dinamika pasar seharusnya menangkap ini sebagai peluang bisnis masa depan, bukan sekadar hambatan regulasi," katanya.
Senada dengan hal tersebut, Climate Program Manager dari Foreign
Policy Community of Indonesia (FPCI) Kiara Putri Mulia menekankan pentingnya membawa isu truk listrik ke dalam diskusi elektrifikasi nasional. "Melalui ajang Indonesia Net Zero Summit 2026, kami juga ingin memastikan bahwa percakapan tentang transisi EV di Indonesia tidak berhenti di ranah kendaraan penumpang. Mengangkat isu truk listrik di forum ini sangat krusial agar para pembuat kebijakan dan produsen otomotif sadar bahwa dekarbonisasi sektor transportasi tidak bisa tuntas tanpa elektrifikasi armada logistik," katanya.
Untuk mengawali gerakan ini, akan diluncurkan website resmi www.janganngebul.com
sebagai platform penyedia data dan informasi seputar logistik hijau yang transparan dan mudah diakses siapa saja. Kampanye ini juga akan digaungkan melalui media sosial lewat kolaborasi bersama influencers dan figur publik peduli lingkungan, agar isu truk listrik ini bisa dipahami secara luas dan mendapatkan dukungan dari publik.

13 hours ago
5












































