Sejumlah buruh tani memindahkan karung berisi padi seusai panen menggunakan mesin pemanen padi modern Combine Harvester di areal persawahan Desa Botorejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Senin (2/6/2025). Menurut data Badan Pusat Statistik pada April 2025, luas panen padi Indonesia mencapai 1,65 juta hektare dengan produksi padi diperkirakan sebanyak 9,09 juta ton gabah kering giling (GKG) yang jika dikonversikan menjadi beras diperkirakan mencapai sekitar 5,23 juta ton beras untuk konsumsi pangan penduduk.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merealisasikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada buruh tani di Karawang, Jawa Barat, hanya dalam hitungan jam setelah melakukan kunjungan lapangan. Bantuan tersebut ditujukan untuk memperkuat kegiatan panen sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi buruh tani yang selama ini tidak memiliki akses terhadap bantuan pemerintah.
Bantuan berupa combine harvester telah tiba dan diterima kelompok buruh tani di Desa Tegal Sawah, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang. Alat tersebut diberikan setelah Amran bertemu langsung dengan para buruh tani saat melakukan kunjungan kerja pada Senin (31/8/2026).
"Bantuan berupa combine harvester langsung diberikan untuk mendukung kegiatan panen kelompok buruh tani," kata Amran di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Selain combine harvester, Amran memastikan traktor milik kelompok buruh tani yang hilang dicuri pada malam 17 Agustus 2026 akan segera diganti. Keputusan itu diambil setelah ia mendengar langsung persoalan yang dihadapi kelompok tersebut.
Menurut Amran, kecepatan penyaluran bantuan mencerminkan pola kerja yang diterapkan Kementerian Pertanian. Setiap persoalan yang ditemukan langsung di lapangan, menurut dia, harus segera ditindaklanjuti sehingga aspirasi petani tidak berhenti sebatas laporan.
Sebelumnya, dalam perjalanan kerja di Karawang, Amran menghentikan kendaraannya setelah melihat sejumlah buruh tani sedang bekerja di sawah. Ia kemudian turun dan berbincang langsung untuk mengetahui kondisi serta penghasilan mereka.
Dari percakapan tersebut, Amran mengetahui sebagian buruh tani tidak memiliki sawah sendiri dan menggantungkan hidup sebagai buruh ngarit atau tenaga panen. Kesempatan kerja yang terbatas membuat pendapatan mereka sangat rendah.
"Tadi kami di tengah jalan temukan buruh ngarit. Itu dapat hanya Rp30 ribu per hari dan itu dua kali seminggu, maksimal tiga kali seminggu. Saudara-saudara kita itu tidak mendapatkan bantuan alat mesin pertanian karena tidak punya akses," ujar Amran.
Kondisi tersebut mendorong Kementerian Pertanian mengubah regulasi bantuan alsintan. Buruh tani yang tidak memiliki lahan kini diberi akses untuk memperoleh bantuan alat dan mesin pertanian agar memiliki peluang meningkatkan produktivitas dan pendapatannya.
"Regulasi kami ubah. Sudah kami ubah, sudah kami tanda tangani. Prioritaskan alat mesin pertanian, pompa dan seterusnya kepada buruh tani yang tidak punya sawah supaya kesejahteraannya meningkat," kata Amran.
sumber : Antara

5 hours ago
2
















































